Pemuda Panca Marga adalah Organisasi kemasyarakatan Pemuda yang bersifat kekeluargaan dan merupakan wadah berhimpun bagi Putera-Puteri Veteran Republik Indonesia beserta keturunannya yang memiliki hubungan kesejarahan, aspirasi, dan koordinasi dengan Legiun Veteran Republik Indonesia dan merupakan bagian dari Keluarga Besar TNI / Polri

Rabu, 16 Oktober 2013

Ini kisah nestapa nenek Astuti, veteran perang dari Surabaya

Reporter : Moch. Andriansyah
Nenek Astuti veteran perang dari Surabaya. ©2013 Moch Andriansyah 
Merdeka.com - Pasca tumbangnya Orde Lama hingga enam kali Presiden RI berganti wajah, nasib veteran BKR Laut, Letnan dua (Letda) Soegeng Setijoso dan istrinya Astusti, yang juga veteran Palang Merah Indonesia (PMI), begitu miris. Dengan uang pensiun yang tak seberapa, keduanya menghidupi empat anak yang mengalami keterbelakangan mental.

Mendengar informasi ini, merdeka.com makin tergelitik untuk mencari tahu kehidupan sepasang veteran perang kemerdekaan tersebut. Setelah hampir seharian mencari informasi keberadaan keduanya, akhirnya diketahui kalau mereka tinggal di Jalan Kalibokor Kencana II/12, Surabaya, Jawa Timur.

Di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan roda dua saja itu, keduanya tinggal. Sebelumnya, tak ada yang tahu kalau Soegeng dan Astuti adalah bekas pejuang kemerdekaan. Mereka hanya dikenal sepasang tua yang memiliki empat anak dengan keterbelakangan mental.

Sayangnya, saat ditemui Letda Soegeng sudah almarhum. Dia meninggal sejak enam tahun silam. Dan tinggalah Astuti dengan empat anaknya. Dia hidup dari uang pensiunnya yang tak seberapa. "Pak Soegengnya sudah meninggal enam tahun lalu. Sekarang ya tinggal istrinya sama satu orang anaknya. Dua anaknya lagi dititipkan di Liponsos, satunya lagi sudah meninggal saat berada di Liponsos," kata istri Ketua RW VII Kalibokor Kencana, Nur.

Diceritakan Nur dan beberapa warga setempat, dulu sebelum Soegeng dan Astuti diketahui sebagai mantan pejuang kemerdekaan, mereka tinggal di gubuk reot. Baru dua tahun lalu, tepatnya pada 2011, rahasia mereka sebagai veteran perang terbongkar. Saat itu, Soegeng sudah wafat.

"Mereka hidup susah. Bahkan, untuk makan saja susah. Pernah suatu ketika, mereka sudah tidak punya uang untuk makan. Empat anaknya berada di depan rumah sambil membawa rantang plastik meminta makan kepada setiap orang yang lewat," kata Nur bercerita.

Kejadian yang tak pernah terjadi saat mendiang Letda Soegeng masih hidup itu, makin membuat warga sekitar bertanya-tanya. Bahkan, kondisi rumah milik veteran perang itupun tampak kumuh. Kotor dan bau yang sangat menyengat hidung tetangga kanan kiri, juga bagi siapa saja yang lewat di depan rumah.

Ketua RW yang diminta untuk mengecek kondisi dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu, akhirnya menuruti permintaan warganya. "Sekarang, sudah bersih. Dulu, jangankan mau masuk rumah, lewat di depan rumahnya saja, nggak kuat. Baunya minta ampun. Mulai bau kotoran sampai bau kencing. Pokonya pingin muntah kalau mau lewat di depan rumahnya," terang warga sekitar.

"Ya bagaimana tidak bau, wong ketika saya masuk rumahnya itu, waduuuhh, sampah bekas bungkus makanan sudah penuh satu rumah. Mereka kencing di situ, buang air besar juga di situ, bahkan dioles-oleskan ke dinding juga. Tidak pernah mandi juga. Ya mau gimana lagi, wong mentalnya kayak begitu. Ibunya juga sudah tua," sahut Nur.

Mengetahui kondisi yang amat parah itu, Nur meminta bantuan kelurahan dan pihak kecamatan, yang akhirnya ikut datang ke gubuk almarhum Soegeng dan Astuti. Bahkan, para perangkat kampung juga membawa dokter dari puskesmas setempat untuk memeriksa kondisi kesehatan seisi rumah.

Warga akhirnya membantu membersihkan gubuk reot milik Soegeng dan Astuti. Saat itu lah, salah satu pegawai kecamatan terkejut melihat 'Surat Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia' usang yang terbingkai di dinding rumah.

Surat tanda kehormatan itu, ditujukan kepada Letda Soegeng. "Loh ini kan sama persis dengan yang dimiliki ayah saya. Mereka ini veteran perang," kata Nur menirukan kalimat yang terlontar dari mulut pegawai kecamatan.

Lantas mereka mengundang Kodim 0831, Surabaya. "Wah, akhirnya ramai, banyak yang ke sini. Trus dilakukan bedah rumah itu. Sekarang rumahnya bagus. Dan dua anaknya dibawa ke Liponsos, karena di sini tidak ada yang merawat. Sebelumnya sempat dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Karena tidak ada yang tanggung jawab merawat, akhirnya dipindah di Liponsos itu. Satu anaknya lagi meninggal. Tinggal satu itu yang tinggal sama Ibu Astuti," lanjut Nur berkisah.

Sejak saat itu, Astuti banyak dibantu warga sekitar, selain mengandalkan uang pensiun, yang kini hanya Rp 1,3 juta per bulan. Setiap hari, Nur selalu menengoknya, untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan Astuti. "Sekarang yang merawat setiap hari ya Ibu RW (Nur), warga juga ikut bantu-bantu nyumbang," ucap warga yang lain.

Sementara itu, saat ditemui di rumahnya, Astuti dengan tubuh rentanya menyambut dengan senyum ramah. Dengan tongkat kayunya, nenek berusia 77 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Perempuan tua yang mengenakan kerudung hitam dan daster batik warna coklat itu berjalan ke sudut ruang tamu, menuju tombol stop contak lampu. Ups, lampunya mati.

Akhirnya, dengan hanya penerangan dari balik ruang tengah, Astuti mengisahkan perjuangannya semasa perang kemerdekaan. Mesti tubuhnya yang renta dan ingatan yang kadang menerawang, dia bercerita cukup baik.

Jam dinding menunjuk pukul 18.15 WIB, nenek Astuti pun memulai ceritanya. "Zaman dulu, tentara Jepang itu sangat kejam. Mereka itu paling kejam dibanding Belanda, siapa saja yang bikin salah langsung dibunuh. Tapi dulu itu, jalan kaki nggak pakai sendal kaki tetap kuat, kalau sekarang, biar pakai sandal atau sepatu, kaki tetap kena beling," cerita dia dengan logat Jawa.

Tubuh renta itu, juga menunjukkan surat tanda kehormatan untuk suaminya dari Presiden Soekarno, yang masih menempel rapi di dinding rumah. "Sekarang ya sudah pensiun. Sejak almarhum Bung Karno tidak lagi memimpin, saya dan suami saya tidak lagi di kesatuan. Kami hidup ya dari uang pensiun, tidak pernah ada bantuan apa-pun dari pemerintah," kata nenek renta itu menerawang.

Di balik surat itu, terdapat tulisan tangan dari almarhum Soegeng, yang ternyata itu adalah nyanyian ciptaannya selama masa perjuangan, berikut fotonya. Lirik lagu itu berjudul "Hiburan Gerilya". Berikut petikan lagunya :
 Di mana aku berada ini
jauh ayah dan ibuku
Kelelahan yang menimpa diri
tak mengenal waktu
Siang malam aku menderita
rintangan silih berganti
Berat senjata yang kubawanya
tetap kusayangi
Tetapi apa dayaku harus menetapi
ibu pertiwi mengharap jasaku
Mengabdi pada nusa dan bangsa
untuk merdeka!!
[mtf]

SBY: Kali pertama menjabat presiden APBN Rp 400 Triliun, Sekarang Rp 1800 Triliun

Pada hari kedua kunjungannya ke Pacitan, Jawa Timur, Rabu (16/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan sejumlah proyek infrastruktur di Pusat Tenaga Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Jawa Timur, Pacitan. Proyek-proyek yang diresmikan itu adalah PLTU 2 Paiton, PLTU 1 Rembang, PLTU 3 Lontar, Gelanggang Olahraga (GOR) dan Stadion Pacitan, Masjid Agung Darul Falah Pacitan, dan proyek-proyek dari Kementrian Pekerjaan Umum.

Dengan menekan tombol sirene dan menandatangani  prasasti, Presiden SBY meresmikan sejumlah proyek tersebut didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Dirut PLN, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Presiden juga melakukan peninjauan di beberapa titik di PLTU 1 Pacitan.


Dalam sambutannya, Presiden SBY  mengapresiasi seluruh pihak yang turut mewujudkan pembangunan proyek-proyek di Pacitan ini. "Saya lahir di Pacitan, sekolah dari SD-SMA di Pacitan, dan setelah itu baru mengembara. Satu lagi kebanggaan Pacitan dibangun. Apresiasi saya sampaikan kepada seluruh pihak yang terus bekerja keras membangun daerah semakin maju," ujar Presiden SBY.
SBY juga bercerita bahwa dulu hampir setiap tahun mengujungi daerah asalnya. Namun setelah menjadi seorang Presiden, lawatan ke Pacitan biasanya dilakukan sekali dalam dua tahun. "Saya minta masyarakat Pacitan untuk sabar, karena saya harus adil memerhatikan saudara-saudara kita di dearah lain di Indonesia. Ketika dua tahun sekali saya berkunjung ke sini, pasti selalu ada kemajuan. Terima kasih untuk semuanya," kata SBY menambahkan.

Dalam kesempatan itu  Presiden SBY,mengungkapkan, saat pertama kali memimpin Indonesia di 2004, nilai belanja APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) mencapai Rp 400 triliun. Tapi saat ini, yaitu di 2013, nilai belanja APBN sudah mencapai Rp 1.800 triliun.
"Pertama kali saya menjabat sebagai Presiden 2004 APBN kita mencapai Rp 400 triliun, saat ini negara ini terus berkembang APBN-nya sekarang hampir mencapai Rp 1.800 triliun. Ini patut kita syukuri," kata SBY dalam sambutannya di acara Peresmian Proyek-Proyek Infrastruktur di Pacitan itu.

SBY mengakui, walau nilai belanja dalam APBN meningkat pesat, namun sebagian besar digunakan untuk membayar utang di masa lalu. "Jumlah itu (APBN) sebagian digunakan untuk membayar pinjaman kita sejak dulu kala, dan sebagian lagi yang jumlahnya tidak kecil yakni untuk subsidi, BBM, pupuk, dan lainnya untuk menolong rakyat kita yang tidak mampu," katanya.

Melalui akun twitternya @SBYudhoyono, Presiden SBY mengatakan, , pada 2004, Indonesia miliki daya listrik 25.100 MW. Sedang pada 2013 naik pesat jadi 46.000 MW. "Mari kita syukuri dan tingkatkan kemajuan ini," tulis Presiden.
Acara peresmian proyek-proyek infrastruktur di Pacitan itu dihadiri pula oleh Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Kehutanan Zulkilfli Hasan,Menteri PU Djoko Kirmanto, Mendikbud Muhammad Nuh, Menpora Roy Suryo, Menparekraf Mari Elka Pangestu, dan Ketua KEN Chairul Tandjung.
 (Humas Setkab/WID/ES)

Minggu, 13 Oktober 2013

Kisah terbunuhnya dr Kariadi dan pertempuran 5 hari di Semarang

Reporter : Parwito .MERDEKA.COM
Lawang Sewu. wordpress.com
Pertempuran 5 hari di Semarang merupakan rangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang pada masa transisi. Pertempuran yang dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945, yang didahului dengan situasi memanas sebelumnya ini berakhir hingga pada tanggal 20 Oktober 1945.

Pertempuran ini dimulai dengan peristiwa tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa pada Pada 1 Maret 1942. Seminggu kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1945, pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Mulai saat itu, Indonesia diduduki dan dijajah oleh tentara Jepang.

Tiga tahun penjajahan berlangsung, pada Agustus 1945 tentara Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu paska dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Kabar berita Proklamasi dari Jakarta akhirnya terdengar hingga sampai ke Kota Semarang. Layaknya terjadi di kota-kota lain, di Semarang rakyat khususnya pemuda-pemudinya berusaha untuk melucuti senjata Tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh, Semarang.

Tanggal 13 Oktober, suasana semakin mencekam, Tentara Jepang semakin terdesak. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan senjata sama sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri. Aula Rumah Sakit Purusara kini menjadi RS Dr Kariadi Semarang, dijadikan markas perjuangan. Para pemuda rumah sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya menghadapi Jepang. Sementara itu taktik perjuangan pemuda menggunakan taktik perang bergerilya.

Setelah pernyataan Mayor Kido, Pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu.

Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama, Kota Semarang. Kedelapan anggota polisi istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.
Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda.
Istri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran.

Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan. Kejadian ini merupakan penyulut utama Perang Lima Hari di Semarang.
Sekitar pukul 03.00 WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan sekitar 1.000 tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Sementara itu, berita gugurnya dr Kariadi yang dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota. Korban berjatuhan di mana-mana.

Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta gencatan senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung. Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di berbagai penjuru Kota Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000 pejuang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr Kariadi dan delapan karyawan RS Purusara Kota Semarang
[hhw]

Jumat, 16 Agustus 2013

Kepangkatan dalam Polri

PERWIRA TINGGI
PERWIRA MENENGAH
PERWIRA PERTAMA

BINTARA TINGGI


BINTARA
TAMTAMA TINGGI
TAMTAMA
 
JENJANG KEPANGKATAN

Proklamasi

Saat pasukan TNI menangis haru melihat Jenderal Soedirman

Reporter : Ramadhian Fadillah-MERDEKA.COM
Soedirman. blogspot.com
Suatu malam di belantara Jawa tahun 1949. Soedirman terbatuk-batuk sepanjang malam dalam sebuah pondok reot di tengah hutan. Mantel lusuhnya tidak mampu menahan udara dingin malam itu. Paru-parunya terus digerus penyakit TBC yang makin parah.

Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.

Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.

Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.
Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.
Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.
Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu.

Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.

Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada.

Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.
Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.

Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.
Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.

Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan.

Mata para prajurit yang berbaris rapi itu basah oleh air mata. Dada mereka sesak saat memberikan penghormatan bersenjata pada Soedirman.

Semua tahu, gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.

Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.

Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.
[ian]

Jumat, 12 Juli 2013

REVITALISASI KONSTRUKSI KEBANGSAAN

 
ACARA PP PPM TANGGAL 22 JULI 2013
TUJUAN
1.      Menemukenali fenomena ancaman ril konstruksi kebangsaan  Indonesia
2.      Menggali pemikiran-pemikiran inovatif yang berpeluang untuk lebih merekatkan konstruksi kebangsaan Indonesia dalam berbagai pilar
3.      Merumuskan solusi cerdas dan efektif sebagai enerji integratif untuk membawa Indonesia lebih maju dan sejahtera

Senin, 01 Juli 2013

Cerita menarik di balik pasukan polisi menangkap tokoh PKI Muso

Muso. wikipedia.org

Hari ini, Kepolisian RI berulang tahun. Menarik menengok kembali kisah sukses polisi dalam berbagai operasi, seperti ketika menangkap tokoh PKI Muso.

Ceritanya, Hari Ulang Tahun Kepolisian Negara, 1 Juli 1948, dijadikan momentum pemberantasan komunis di Indonesia. Sebab, kelompok kiri tersebut berulah dengan melakukan pemberontakan terhadap pusat pemerintahan.

Di acara HUT Kepolisian Negara yang dihadiri sejumlah pimpinan pemerintahan, angkatan perang, instansi pemerintah dan pemuka masyarakat itu, Moehammad Jasin selaku komandan Mobiele Brigade Besar (MBB), cikal bakal Brimob, merangkap koordinator Mobiele Brigade (MB) Karesidenan se-Jatim meminta perintah khusus kepada R soemarto, Wakil Kepolisian Negara.

Perintah khusus itu adalah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang sejumlah wilayah yang menjadi basis dan melucuti senjata komunis.

"Jangan sekadar diperbantukan. Saya mohon agar Djawatan Kepolisian Negara memerintahkan saya untuk mempersiapkan MBB Jawa Timur. Jika perlu, menyertakan MB Karesidenan di Jawa Timur untuk melucuti senjata kesatuan-kesatuan kiri," kata Jasin kepada Soemarto seperti dikutip dalam buku 'Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang' terbitan Gramedia.

Dalang di balik gangguan keamanan dan kudeta di Yogyakarta, adalah Muso, dia merupakan tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI). Jasin dan pasukannya sudah beberapa menyerbu daerah yang menjadi basis komunis seperti Madiun, Surakarta atau Solo.

Ternyata Muso juga menjadikan Ponorogo, Jawa Timur, sebagai salah satu basis dalam mengatur kekuatan untuk menentang pemerintah. Pasukan Republik Indonesia menyerbu sarang Muso di Ponorogo, 31 Oktober 1948.

Namun, Muso terus menerus berhasil melarikan diri. Muso menyamar sebagai kusir dokar dan berhasil lolos melintasi pos pasukan republik tanpa dikenali.

Setelah Muso, kemudian ada sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Muso mengira mobil itu milik petugas yang sedang memburunya, dia salah karena mobil tersebut hanya kebetulan berada di belakangnya.

Tak ingin tertangkap, Muso menembaki mobil tersebut dari atas dokar. Aksi tembak menembak dengan petugas terjadi. Dengan lantang, Muso berteriak 'Muso tidak kenal menyerah!'.

Tersudut, Muso melarikan diri dan berlindung di kamar mandi milik penduduk desa yang terbuat dari gedhek. Dalam keadaan terdesak, Muso masih menembaki petugas. Polisi meminta pentolan PKI itu untuk menyerah, Muso menjawab dengan tembakan.

Prajurit pun mengarahkan senjata mitraliur ke tempat persembunyian Muso. Muso roboh. Meski luka berat, dia masih hidup. Muso dibawa ke rumah sakit Ponorogo.

Kepala polisi Ponorogo menghubungi Moehammad Jasin sebagai komandan MBB Jawa Timur merangkap koordinator Mobiele Brigade (MB) Karesidenan se-Jatim. Jasin menyaksikan Muso mengembuskan napas terakhir.

Senin, 13 Mei 2013

Berapa Sih Besaran Tunjangan Veteran Pejuang Kemerdekaan? Ini Dia Daftarnya

Herdaru Purnomo - detikfinance
 Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013, Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 telah menaikkan tunjangan kepada bekas anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan dan para Veteran.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tunjangan tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan saat ini.

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013 kepada bekas anggota KNIP kini diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 2.128.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.988.000,00). Apabila bekas anggota KNIP meninggal dunia, kepada janda/dudanya yang sah diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 1.585.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.481.000).

Dalam hal bekas anggota KNIP mempunyai lebih dari seorang istri yang sah, maka yang mendapat tunjangan kehormatan adalah istri pertama.

"Istri yang pertama sebagaimana dimaksud adalah istri yang paling lama dinikahinya tanpa terputus oleh perceraian," demikian bunyi Pasal 3 Ayat (3) PP tersebut yang dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Senin (6/5/2013).

Sementara pada Pasal 3 Ayat (4) disebutkan, pembayaran tunjangan dihentikan apabila janda/duda bekas anggota KNIP meninggal dunia atau kawin lagi.

Adapun pemberian tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 adalah Rp 2.128.000,00 (sebelumnya Rp 1.988.000,00); dan apabla Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan meninggal dunia maka kepada janda/dudanya diberikan tunjangan sebesar Rp 1.585.000,00 (sebelumnya Rp 1.481.000,00).

Mengenai besarnya tunjangan kepada Veteran Pejuang kemerdekaan RI sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 disebutkan: a. Golongan A sebesar Rp 1.310.000,00 (sebelumnya Rp 1.224.000,00); b. Golongan B sebesar Rp 1.276.000,00 (sebelumnya Rp 1.192.000,00); Golongan C adalah Rp 1.225.000,00 (sebelumnya Rp 1.144.000,00; d. Golongan D adalah Rp 1.194.000,00 (sebelumnya Rp 1.115.000,00); dan e. Golongan E adalah Rp 1.168.000,00 (sebelumnya Rp 1.091.000,00).

"Kepada Veteran yang menderita cacat badan dan/atau cacat ingatan diberikan tambahan tunjangan cacat sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi Purnawirawan TNI/Polri yang cacat," jelas Pasal 4 Ayat (3) PP tersebut.

Adapun Tunjangan Veteran yang diberikan kepada janda/duda Veteran Pejuang Kemerdekaan RI adalah: a. Golongan A Rp 1.189.000,00 (sebelumnya Rp 1.111.000); b. Golongan B Rp 1.134.000,00 (sebelumnya Rp 1.059.000,00); c. Golongan C Rp 1.081.000,00 (sebelumnya Rp 1.010.000,00); d. Golongan D Rp 1.033.000,00 (sebelumnya Rp 965.000,00); dan e. Golongan E Rp 987.000,000,00 (sebelumnya Rp 922.000,00).

Ketentuan mengenai perubahan besaran tunjangan untuk bekas anggota KNIP, Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan, dan Veteran Pejuang kemerdekaan RI ini berlaku mulai 1 Januari 2013. Adapun PP mengenai pemberlakuan hal itu berlaku per tanggal diundangkan, yaitu 11 April 2013.


(dru/dnl)

Sabtu, 30 Maret 2013

TANTANGAN TERSUKAR BANGSA INDONESIA

Tantangan bangsa Indonesia dalam menghadapi masa depan tidak sedikit dan banyak di antara tantangan itu merupakan masalah yang sukar. Seperti tantangan membangun ekonominya dengan pertumbuhan yang tinggi, tapi di pihak lain juga mengatasi kemiskinan dan kesenjangan lebar antara orang kaya dan miskin. Atau keharusan membangun infrastruktur untuk transportasi yang luas ke seluruh wilayah nasional di darat, laut dan udara, maupun untuk menghasilkan tenaga listrik dalam jumlah besar. Ini semua merupakan tantangan yang berat bagi Pemerintah di Pusat dan Daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun di antara berbagai tantangan yang sukar dan berat ini yang tersukar dan berat adalah kewajiban membangun Manusia dan Masyarakat yang tinggi kualitasnya, karena inilah hakekatnya penentu bagi keberhasilan seluruh usaha dan pembangunan menuju pencapaian Tujuan Nasional kita.
Sebetulnya banyak yang sadar akan pentingnya faktor Manusia dan Masyarakat. Antara lain Presiden Sukarno, presiden kita pertama, selalu mengemukakan pentingnya Nation & Character Building. Juga dalam masa kepemimpinan Presiden Soeharto dicanangkan bahwa hakekat pembangunan nasional Indonesia adalah membangun Manusia dan Masyarakat Indonesia. Dan dalam kehidupan sehari-hari selalu orang suka mengatakan bahwa untu mencapai keberhasilan yang penting adalah the Man behind the gun atau orang-orang yang melakukan usaha itu.
Namun demikian, kehidupan bangsa kita menunjukkan bahwa faktor Manusia dan Masyarakat paling sering menjadi halangan untuk keberhasilan satu usaha. Itu bukti bahwa sekalipun ada kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya faktor Manusia , usaha yang dijalankan untuk peningkatan mutu Manusia Indonesia masih jauh dari memadai untuk mewujudkan perubahan.
Sebetulnya kurang masuk akal bahwa peningkatan mutu Manusia dan Masyarakat merupakan tantangan berat bagi bangsa Indonesia. Sebab kita melihat bahwa pada dasarnya Manusia Indonesia banyak potensinya yang positif . Seperti adanya potensi kecerdasan yang tinggi; hal itu seringkali kita lihat ketika pemuda Indonesia menonjol dalm pendidikan bersama anak-anak bangsa lain. Juga Manusia Indonesia menunjukkan potensi untuk bersikap fleksibel, mudah menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan dan perubahan. Namun bangsa Indonesia kurang mampu menjadikan berbagai potensi itu berkembang menjadi kekuatan nyata yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan masa kini dan masa depan secara efektif.
Kekurangan ini mungkin sekali terbentuk karena pengaruh Alam Lingkungan Indonesia yang mudah dan murah. Tanah yang subur dan mudah ditanami apa saja. Cuaca yang tidak pernah terlalu panas atau terlalu dingin. Berbeda dari Alam Lingkungan yang keras, seperti kehidupan di bagian utara Planit Bumi dengan keharusan bagi manusia mengatasi berbagai persoalan yang ditimbulkan musim dingin yang tajam.
Alam Lingkungan yang murah dan mudah cenderung membuat Manusia Indonesia manja mentalnya. Ia menjadi orang yang dalam segala hal hidup santai, tidak merasa perlu berdisiplin, kurang mampu untuk bersifat konsisten, tidak terdorong untuk melakukan hal-hal terbaik dan cenderung bersikap semau gue. Tidak keberatan hasil pekerjaannya asal jadi dan bukan produk unggul.. Sifat gumampang itu membuatnya kurang serieus menghadapi persoalan. Karena manja mental itu berbagai sifat positif dalam diri Manusia tiidak dapat berkembang menjadi kekuatan. Dan karena itu tidak ada niat untuk mencapai yang terbaik.
Hal ini amat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pandai dan hebat berteori dan berwacana, tetapi hanya bicara belaka tanpa disertai perbuatan menjadikan teori itu kenyataan. Ini kita sering kali jumpai pada para pemimpin tertinggi hingga rakyat di bawah, sejak permulaan kemerdekaan hingga kini. Yang paling menonjol adalah kehebatan Bung Karno menghasilkan Pancasila yang beliau gali dari kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi baik Bung Karno maupun para pemimpin lain tidak berhasil menjadikan Pancasila yang diakui sebagai Dasar Negara RI, satu realitas nyata dalam kehidupan bangsa. Kita juga acapkali mengalami produk buatan Indonesia bagus mulanya tetapi tidak tahan lama. Seperti jembatan yang runtuh tidak lama setelah selesai dibangun, padahal dibangun dengan dana memadai serta pimpinan proyek berpendidikan teknik yang bagus. Kemanjaan mental juga berakibat kurang adanya daya saing menghadapi pihak lain, bukan karena kurang pintar atau kurang dana, melainkan karena kurang ada semangat juang . Kemanjaan mental ini berakibat luas dan jauh sehingga bangsa Indonesia menjadi kurang mampu menjadikan segala karunia Allah berupa Sumberdaya Alam yang kaya dan bermutu, memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Malahan yang jauh lebih banyak mendapat manfaat dari kekayaan Sumberdaya Alam Indonesia adalah orang asing.
Maka menjadi tantangan bangsa bagaimana membuat Manusia Indonesia bersikap arif dan efektif menghadapi Alam Lingkungan yang mudah dan murah. Bukan menjadi manja dan lemah mental, melainkan justru terdorong untuk me-respond kemurahan Tuhan itu dengan menjadikan segala kemurahanNya memberikan manfaat maksimal bagi seluruh bangsa kita sendiri .
Namun tidk semua Manusia Indonesia jadi manja mental dan terdapat perkecualian dalam gambaran Manusia dan Masyarakat itu. Cukup banyak orang Indonesia, pria maupun wanita, yang menunjukkan prestasi tinggi dalam hidupnya. Kita ingat almarhum Pak Dasaad yang sebagai anak muda hanya penjual kacang di pinggir jalan, tetapi kemudian tumbuh menjadi pengusaha besar yang menimbulkan kebanggaan. Kita juga teringat alm Ibu S.K.Trimurti Srikandi Perjuangan Kemerdekaan yang gigih hidupnya dari mulai muda sampai wafat pada usia 96 tahun. Kita juga teringat Pak Maladi yang tidak hanya penjaga gawang yang hebat di masa muda tetapi kemudian juga secara konsisten memimpin PSSI sehingga kesebelasan Indonesia di masanya tergolong terkuat di Asia. Pasti kita tidak lupa Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sekalipun sakit berat tetap memimpin perjuangan TNI bersama Rakyat. Serta semua Pejuang Kemerdekaan yang gigih dan konsisten melawan penjajah dan akhirnya dapat memaksanya mengakui kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Masih cukup banyak contoh hasil juang Manusia Indonesia yang menonjol. Akan tetapi rupanya perkecualian yang ada itu masih kurang memadai untuk mengkompensasi kelemahan bangsa berupa kemanjaan mental. Orang-orang Indonesia yang pejuang dan menonjol tidak dapat menjadikan bangsa Indonesia secara umum cukup bermutu dan hidup dengan daya saing menonjol dalam Alam Umat Manusia masa kini dan masa datang.
Kunci untuk menghadapi tantangan ini adalah Pendidikan dan Kepemimpinan yang tepat sehingga dapat meniadakan pengaruh negatif dari Alam Lingkungan yang murah dan mudah. Sehingga tidak ada sifat manja mental bangsa. Baik pendidikan di lingkungan Keluarga, maupun di Sekolah dan Masyarakat dapat berperan untuk menjadi kunci pemecahan persoalan.
Juga Kepemimpinan mempunyai peran penting sebagai kunci perubahan. Untuk itu diperlukan Kepemimpinan yang bermutu di setiap eselon dan sektor kehidupan bangsa, mulai Presiden hingga Lurah, pimpinan perusahaan hingga mandor produksi.
Proses Pendidikan makan waktu lama, tetapi merupakan kegiatan utama untuk perbaikan mutu Manusia. Sebab itu harus dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan keuletan. Untuk itu diperlukan Kepemimpinan Nasional dan Daerah yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang bukan lemah dan manja mental. Mereka yang menetapkan orang-orang sebagai penyelenggara Pendidikan yang tepat, yaitu tidak saja punya kompetensi tinggi sebagai Pendidik tetapi juga bermental kuat untuk memimpin proses pendidikan dengan sukses. Sebab proses Pendidikan itu tidak mungkin memberikan keberhasilan dalam waktu singkat dan akan banyak dihadapi persoalan, tantangan dan ganngguan.
Proses Pendidikan yang dilakukan di Pendidikan Sekolah itu juga harus dapat mempengaruhi Pendidikan di lingkungan Keluarga. Para Orang Tua perlu memperoleh dampak atau pengaruh untuk mendidik putera-puterinya menjadi orang bermutu, yaitu orang yang berkarakter teguh-kuat, senantiasa mengusahakan yang terbaik dan menjadi warga masyarakat serta warga negara yang produktif.
Seluruh proses perubahan yang ditimbulkan oleh Pendidikan dan Kepemimpinan yang tepat itu harus dapat menghasilkan kebiasaan-kebiasaan hidup baru dalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang mendorong orang untuk hidup, bersikap dan berpikir menghasilkan yang terbaik dalam segenap pekerjaan dan kegiatannya. Dengan begitu lambat tapi pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa dengan masyarakat bermutu tinggi. Hasil kegiatan bangsa dan produk bangsa Indonesia menjadi benar-benar bermutu dan memperoleh pengakuan dan branding internasional sebagai yang terbaik.
Proses perubahan yang makan waktu lama memerlukan kepemimpinan yang konsisten, ulet, sabar dan taat pada tujuan perjuangan.
Semoga bangsa Indonesia sukses dalam mengatasi tantangan berat dan sukar ini.

Senin, 18 Februari 2013

TEMA HUT KE 32 PEMUDA PANCA MARGA


JAKARTA, 1 Februari 2013 ( BERITA PPM ) Peringatan HUT ke-32 Pemuda Panca Marga (PPM) tahun ini, mengusung tema, “Transformasi Paradigma Menuju Kebangkitan PPM”. Puncak acara ditandai dengan ziarah ke TMP Nasional Kalibata, dilanjutkan dengan acara syukuran di Auditorium Balai Sarbini, Gedung Veteran RI (Plasa Semanggi), Sabtu (9/2) mendatang.
Ketua Panpel HUT ke-32 PPM, Abdilah Karyadi, kepada pers di Jakarta, Jumat (1/2) menjelaskan, organisasi wadah berhimpun anak dan keturunan Veteran RI yang dikenal dengan nama Pemuda Panca Marga, resmi berdiri dan dibentuk pada tanggal 22 Januari 1981, di Pandaan, Jawa Timur. “Pemilihan tema peringatan HUT kali ini, bertolak dari keinginan untuk melakukan transformasi nilai-nilai kejuangan para kader PPM, dari sikap militansi seperti yang dikenal selama ini ke sikap intelektual”, ujar Karyadi yang juga menjabat sebagai salah satu ketua Pimpinan Pusat (PP). PPM. Menurut Karyadi, dalam berbagai kesempatan acara konsolidasi organisasi, Ketua Umum PP. PPM, H. Lulung AL, SH, telah mencanangkan dan selalu mengingatkan bahwa periode masa bakti kepengurusan PP. PPM 2011-2015 sekaligus merupakan era kebangkitan PPM. Karenanya, segenap jajaran PPM di seluruh tanah air, mendukung dan bertekad menyukseskan apa yang telah dicanangkan tersebut. Kegiatan ziarah dan acara syukuran, menurut rencana akan diikuti lebih kurang 1200 anggota Resimen Yudha Putra dari Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten, dengan kekuatan personel masing-masing 400 orang. Ziarah akan dipimpin oleh Ketua Umum PP. PPM, H. Lulung AL, SH dan diharapkan dihadiri para ketua PD. PPM seluruh Indonesia. Sementara pada acara syukuran yang dirangkaian dengan acara hiburan, diharapkan hadir sekaligus menyampaikan sambutan, Panglima TNI selaku Ketua Dewan Pembina PPM, Ketua Umum DPP LVRI dan para senior pendiri PPM. Menurut Karyadi, pimpinan KNPI Pusat dan OKP tingkat nasional juga diundang dalam acara ini. Selain itu, rangkaian kegiatan dalam rangka HUT ke-32 PPM meliputi, forum dialog kebangsaan tgl 27 Februari 2013, di Jakarta, dengan tema, “Revitalisasi Konstruksi Kebangsaan” yang akan diikuti peserta/utusan, DPP LVRI, DPP KNPI, OKP Tingkat Nasional, PTN/PTS di Jakarta, para ketua PD. PPM, Ormas Tingkat Nasional, Parpol, kementerian dan sejumlah lembaga kajian politik/sosial. Di lingkup internal, akan digelar Diklat Kader Tingkat Madya X oleh PD. PPM Jabar yang akan diikuti selain wakil/utusan PC. PPM se-Provinsi Jawa Barat juga wakil-wakil dari PD. PPM seluruh Indonesia. Kegiatan acara lainnya berupa bakti sosial, selain ditujukan untuk para keluarga Veteran RI juga untuk kalangan masyarakat yang waktu dan tempatnya akan ditentukan kemudian. Sementara itu, kegiatan Fun Bike (sepeda santai) menurut rencana digelar bersamaan dengan peringatan Hari Kartini tanggal 21 April 2013 mendatang yang dipusatkan di lapangan Monas, Jakarta Pusat. (SS/Panpel).-

Rabu, 23 Januari 2013

Proposal Dialog Kebangsaan





REVITALISASI KONSTRUKSI KEBANGSAAN




I.              LATAR BELAKANG
Indonesia telah merdeka 67 tahun yang lalu. Banyak capaian yang telah diraih, namun masih banyak lagi yang perlu diupayakan untuk membawa bangsa dan negara ini lebih maju dan sejahtera. Pada era antara tahun 1980 – 1990, Indonesia mendapat julukan sebagai salah satu Macan Asia karena pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan, keamanan sangat kondusif dan kegiatan investasi sangat signifikan. Saat ini Indonesia juga mengalami kemajuan pesat terutama pasca reformasi dimana Indonesia kini menjadi negara demokrasi tersebar ketiga di dunia. Namun cukupkah dengan semua itu ?
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, para pejuang bangsa telah mengorbankan jiwa dan raga mereka dengan cita-cita luhur tanpa pamrih mengharapkan bangsa dan rakyat negara ini berdiri tegak maju dan sejahtera sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Dengan berbagai fenomena yang menimpa bangsa dewasa ini tentunya pasti ada sesuatu yang sedang mengalami ancaman. Akankah bangunan Indonesia dibiarkan terus terancam ?
Sebagai wadah berhimpun Anak dan Keturunan  Veteran Republik Indonesia, Pemuda Panca Marga merasa tergerak untuk menginisiasi suatu forum ilmiah dalam rangka menggali serta merumuskan berbagai pemikiran anak bangsa dari berbagai komponen, sebagai pengejawantahan dari rasa tanggungjawab tersebut. Dalam kerangka tersebut, dialog ini diharapkan dapat menginisiasi langkah-langkah konkrit sebagai upaya merevitalisasi konstruksi kebangsaan kita, sehingga pada tahun 2025 Indonesia dapat mengoptimalkan momentum bonus demografi yang dimiliki,  serta pada akhirnya di tahun 2030 nanti Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia.
II.            TUJUAN
1.      Menemukenali fenomena ancaman ril konstruksi kebangsaan  Indonesia
2.      Menggali pemikiran-pemikiran inovatif yang berpeluang untuk lebih merekatkan konstruksi kebangsaan Indonesia dalam berbagai pilar
3.      Merumuskan solusi cerdas dan efektif sebagai enerji integratif untuk membawa Indonesia lebih maju dan sejahtera

III.         TEMA
Tema Dialog Kebangsaan ini adalah : “REVITALISASI KONSTRUKSI KEBANGSAAN

IV.         BENTUK DAN MEKANISME DIALOG
Dialog akan dilaksanakan dalam bentuk “Talkshow”. Masing-masing nara sumber menyampaikan informasi, fakta, pemikiran, ide maupun gagasan secara langsung kepada peserta dialog yang dipandu oleh seorang Moderator. Lalu lintas paparan nara sumber dikelola oleh moderator dengan berorientasi kepada tema dialog. Setelah nara sumber mengemukakan berbagai pemikirannya, selanjutnya dilakukan dialog dengan peserta yang hadir.  Paparan nara sumber dan dialog yang dilakukan dengan seluruh peserta, akan dirumuskan sebagai suatu kesimpulan dialog ini dan akan dipublikasikan secara tertulis.   



V.            PEMBICARA/NARA SUMBER
1.   Pewarisan Nilai-Nilai dan Semangat Perjuangan  dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Kepada Generasi Muda, oleh LetJen (Purn) Rais Abin, Ketua Umum DPP LVRI.
2.   Revitalisasi Konstruksi Kebangsaan Untuk Kelangsungan Proses Demokrasi dan  Pembangunan Bangsa dan Negara, oleh DR. H.Marzuki Alie, Ketua DPR RI;
3.      Kondusivitas Atmosfir Kebangsaan Untuk Keberlanjutan Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi, oleh DR (HC) Ir.M. Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian RI;
4.   Rekonstruksi Nilai dan Semangat Kepahlawanan Pada Kondisi Indonesia Kekinian, oleh Edy Prasetyono, S.Sos.,MIS, PhD, Manager of Research and Publication Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia;
5.   Toleransi dan Kecerdasan Multikultural Sebagai Investasi Sosial Penguatan Kebangsaan, oleh Ir. Cahyo Kumolo, Tokoh Senior Pemuda Panca Marga.

VI.         PESERTA SEMINAR
1.      Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan Sekjen DPP LVRI (3 orang)
2.      Ketua Umum KNPI
3.      Ketua Umum DPP – OKP Tingkat Nasional (20 orang)
4.      Rektor Perguruan Tinggi Negeri/Swasta di Jakarta (10 orang)
5.      Unsur PP PPM  (20 orang)
6.      Ketua PD – PPM Seluruh Indonesia (33 orang)
7.      Pimpinan Ormas Tingkat Nasional di Jakarta (15 orang)
8.      Ketua Umum Parpol (18 orang)
9.      Kementerian dan Lembaga Negara Terkait: Kemenlu, Kemendagri, Kemenparektiv, Kemensos, Kemeneg LH, Kemenhan, Kemengpora, Kemenkominfo, Kementan, Mabes TNI, Mabes POLRI, BNN  (12 orang)
10. Lembaga Kajian: INDEF, CSIS, MEGAWATI CENTER, HABIBIE CENTER, ICMI (5 orang)
Seluruh peserta dialog direncanakan lebih kurang 150 orang.

VII.       WAKTU DAN TEMPAT
Dialog kebangsaan ini akan  dilangsungkan  pada hari Selasa tanggal 27 Februari  2013  di Jakarta