Pemuda Panca Marga adalah Organisasi kemasyarakatan Pemuda yang bersifat kekeluargaan dan merupakan wadah berhimpun bagi Putera-Puteri Veteran Republik Indonesia beserta keturunannya yang memiliki hubungan kesejarahan, aspirasi, dan koordinasi dengan Legiun Veteran Republik Indonesia dan merupakan bagian dari Keluarga Besar TNI / Polri ( macabppm.ponorogo@gmail.com )
Selasa, 15 Desember 2015
Ketum : Mohon Doa Restu Ingin Merubah Nama PPM
BERITA PPM : Dalam akhir pidato H. Abraham Lunggana ( H.Lulung ) dihadapan hadirin undangan Kastaf AD "Acara Silaturahmi Kepala Staf Angkatan Darat Dengan Keluarga Besar TNI" (Senin, 7/12/2015)
bahwa pada bulan Januari 2016 akan menyelenggarakan Munas IX PPM di Jakarta, salah satu agendanya adalah ingin merubah nama Pemuda Panca Marga (PPM) dengan tidak merubah garis historisnya.
Dalam sambutannya H Lulung menyampaikan tentang dampak reformasikarena reformasi memiliki agenda : 1. Melemahkan kekuatan ABRI dari kancah politik diantaranya mengeluarkan Fraksi ABRI dari parlemen dan sebagai pintu masuknya adalah mengusulkan berhentinya Suharto sebagai Presiden, ke 2 adalah menghancurkan cita-cita proklamasi, sebagaimana telah disampaikan Bapak mantan Wapres Tri Sutrisno yang telah menyampaikan pandangannya bahwa kita harus kembali ke Undang-Undang Dasar 45.
Jago Kalah, Pendukung Calon Bupati Ponorogo Geruduk KPUD
TEMPO.CO, Ponorogo – Sekitar 200
orang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Demokrasi mendatangi
Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ponorogo, Selasa, 15 Desember
2015. Forum yang terdiri atas gabungan lembaga swadaya masyarakat
pendukung calon bupati-wakil bupati nomor urut 1, Sugiri
Sancoko–Sukirno, itu mendesak agar rekapitulasi penghitungan suara
tingkat kabupaten pada Rabu besok, 16 Desember 2015, ditunda dengan
alasan belum ada pengusutan terhadap dugaan politik uang.
Koordinator pengunjuk rasa Nanang Wibowo mengatakan dugaan politik uang tersebut terjadi di Desa Tanjungsari dan Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan. Pada Selasa petang, 8 Desember 2015, atau sehari sebelum pencoblosan, kata dia, Panitia Pengawas Pemilihan Umum menangkap dua orang yang diduga sebagai anggota tim pemenangan pasangan calon bupati–wakil bupati bernomor urut 4, Ipong Muchlisoni–Sujarno.
Mereka ditangkap karena disinyalir membagi-bagikan uang pecahan Rp 20 ribu agar warga mencoblos pasangan yang diusung Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Nasional Demokrat itu. Adapun barang bukti yang disita berupa uang tunai Rp 2.370.000 dengan rincian Rp 1.860.000 dari Tanjungsari dan Rp 510.000 dari Ngrupit.
"Pilkada di Ponorogo ternoda karena ada praktek politik uang yang tertangkap tangan dan sekarang sedang diusut panwas. Maka rekapitulasi penghitungan suara harus ditunda,’’ katanya.
Selain soal politik uang, para pendemo menuding data rekapitulasi suara pilkada yang dimuat di website resmi KPU tidak akurat. Hasil scan formulir penghitungan suara atau C1 di sejumlah tempat pemungutan suara, menurut dia, lebih banyak dibanding jumlah pemilih. "Ketidakakuratan ini membuat warga bingung. KPU seperti sudah menetapkan pemenang pilkada,’’ ujarnya.
Sesuai dengan hasil penghitungan sementara di website resmi KPU, pasangan Ipong Muchlisoni–Sujarno meraup suara terbanyak atau 219.958 (39,37 persen). Posisi kedua ditempati pasangan Sugiri Sancoko–Sukirno dengan perolehan suara 205.587 (36,80 persen).
Peringkat ketiga ditempati pasangan bupati inkumben yang bernomor urut 2, Amin-Agus Widodo, dengan perolehan suara 123.761 (22,15 persen). Pada posisi buncit atau keempat ditempati pasangan bernomor urut 3, Misranto–Isnen Supriyono dengan perolehan suara 9.422 (1,69 persen).
Komisioner KPU Ponorogo Divisi Keuangan dan Logistik, Ahmad Fauzi Huda, mengatakan hasil scan formulir C1 masih bersifat sementara. Apabila ada kesalahan, akan diperbaiki dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara tingkat kabupaten yang direncanakan pada Rabu besok.
"Untuk membenarkannya, harus direkap berjenjang dan disaksikan panwas dan saksi masing-masing pasangan calon,’’ tuturnya saat melakukan dialog dengan perwakilan pendemo di kantor KPU.
Terkait dengan tuntutan pendemo untuk menunda rekapitulasi penghitungan suara tingkat kabupaten, Ahmad menolak memenuhinya. Masalah politik uang, kata dia, telah diserahkan kepada panwas. "Jangan sampai tahapan pilkada ini terganggu," ucapnya.
NOFIKA DIAN NUGROHO
Koordinator pengunjuk rasa Nanang Wibowo mengatakan dugaan politik uang tersebut terjadi di Desa Tanjungsari dan Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan. Pada Selasa petang, 8 Desember 2015, atau sehari sebelum pencoblosan, kata dia, Panitia Pengawas Pemilihan Umum menangkap dua orang yang diduga sebagai anggota tim pemenangan pasangan calon bupati–wakil bupati bernomor urut 4, Ipong Muchlisoni–Sujarno.
Mereka ditangkap karena disinyalir membagi-bagikan uang pecahan Rp 20 ribu agar warga mencoblos pasangan yang diusung Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Nasional Demokrat itu. Adapun barang bukti yang disita berupa uang tunai Rp 2.370.000 dengan rincian Rp 1.860.000 dari Tanjungsari dan Rp 510.000 dari Ngrupit.
"Pilkada di Ponorogo ternoda karena ada praktek politik uang yang tertangkap tangan dan sekarang sedang diusut panwas. Maka rekapitulasi penghitungan suara harus ditunda,’’ katanya.
Selain soal politik uang, para pendemo menuding data rekapitulasi suara pilkada yang dimuat di website resmi KPU tidak akurat. Hasil scan formulir penghitungan suara atau C1 di sejumlah tempat pemungutan suara, menurut dia, lebih banyak dibanding jumlah pemilih. "Ketidakakuratan ini membuat warga bingung. KPU seperti sudah menetapkan pemenang pilkada,’’ ujarnya.
Sesuai dengan hasil penghitungan sementara di website resmi KPU, pasangan Ipong Muchlisoni–Sujarno meraup suara terbanyak atau 219.958 (39,37 persen). Posisi kedua ditempati pasangan Sugiri Sancoko–Sukirno dengan perolehan suara 205.587 (36,80 persen).
Peringkat ketiga ditempati pasangan bupati inkumben yang bernomor urut 2, Amin-Agus Widodo, dengan perolehan suara 123.761 (22,15 persen). Pada posisi buncit atau keempat ditempati pasangan bernomor urut 3, Misranto–Isnen Supriyono dengan perolehan suara 9.422 (1,69 persen).
Komisioner KPU Ponorogo Divisi Keuangan dan Logistik, Ahmad Fauzi Huda, mengatakan hasil scan formulir C1 masih bersifat sementara. Apabila ada kesalahan, akan diperbaiki dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara tingkat kabupaten yang direncanakan pada Rabu besok.
"Untuk membenarkannya, harus direkap berjenjang dan disaksikan panwas dan saksi masing-masing pasangan calon,’’ tuturnya saat melakukan dialog dengan perwakilan pendemo di kantor KPU.
Terkait dengan tuntutan pendemo untuk menunda rekapitulasi penghitungan suara tingkat kabupaten, Ahmad menolak memenuhinya. Masalah politik uang, kata dia, telah diserahkan kepada panwas. "Jangan sampai tahapan pilkada ini terganggu," ucapnya.
NOFIKA DIAN NUGROHO
Senin, 14 Desember 2015
Kisah sedih anak cari ayah yang tewas di barisan prajurit Kopassus
Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Operasi militer perebutan Kota Dili berhasil
dilakukan oleh 270 Prajurit Para Komando dari Grup I Kopasandha (kini
Kopassus TNI AD) dan 285 prajurit Yonif 501. Namun cukup banyak korban
jiwa yang gugur dalam misi tersebut.
Kopasandha kehilangan 19 prajurit. Sementara dari Yonif 501, gugur 35 orang.
Pasukan Grup I Kopasandha bertugas empat bulan di Timor Timur. Mereka diterjunkan mulai hari H 7 Desember 1975, hingga 31 Maret 1976. Pasukan inilah yang melewati masa-masa terberat di awal Operasi Seroja. Hampir tidak ada hari yang dilewatkan tanpa penyergapan dan tembak menembak.
Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbitkan Kata.
Akhirnya mereka pun ditarik pulang ke Home Base mereka di Cijantung dengan menumpang kapal KM Tolanda. Butuh beberapa hari pelayaran dari Dili hingga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Dari Tanjung Priok, puluhan truk sudah menunggu untuk membawa mereka pulang ke Cijantung yang berada di Jakarta Timur. Kapten Bambang Mulyanto mengingat perjalanan itu terasa sangat lama. Para prajurit sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan keluarga yang sudah ditinggalkan empat bulan lamanya.
Kapten Bambang menceritakan tiba di asrama Kopasandha, Cijantung, terlihat ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat berdiri berbaris di sepanjang jalan. Mereka melambai-lambaikan tangannya menyambut para pahlawannya masing-masing.
Pada saat truk berhenti, berhamburanlah mereka mencari suami, ayah, keluarga atau teman mereka.
"Ada satu hal yang membuat saya menitikkan air mata ketika menyaksikan putra almarhum Koptu Samaun berlari kian kemari mencari ayahnya yang sudah gugur dan dikebumikan di Timor Timur," kenang Kapten Bambang sedih.
Rupanya sang ibu tak berani menceritakan pada anaknya bahwa sang ayah sudah gugur. Karena itu bocah malang itu masih berlari-lari ingin menyambut ayahnya yang hilang.
Kopral Satu Samaun gugur pada tanggal 7 Desember 1975 di tengah pertempuran merebut Kota Dili. Dia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi sersan dua.
![]() |
| Operasi Seroja. ©2015 buku hari "h": 7 desember 1975 |
Kopasandha kehilangan 19 prajurit. Sementara dari Yonif 501, gugur 35 orang.
Pasukan Grup I Kopasandha bertugas empat bulan di Timor Timur. Mereka diterjunkan mulai hari H 7 Desember 1975, hingga 31 Maret 1976. Pasukan inilah yang melewati masa-masa terberat di awal Operasi Seroja. Hampir tidak ada hari yang dilewatkan tanpa penyergapan dan tembak menembak.
Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbitkan Kata.
Akhirnya mereka pun ditarik pulang ke Home Base mereka di Cijantung dengan menumpang kapal KM Tolanda. Butuh beberapa hari pelayaran dari Dili hingga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Dari Tanjung Priok, puluhan truk sudah menunggu untuk membawa mereka pulang ke Cijantung yang berada di Jakarta Timur. Kapten Bambang Mulyanto mengingat perjalanan itu terasa sangat lama. Para prajurit sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan keluarga yang sudah ditinggalkan empat bulan lamanya.
Kapten Bambang menceritakan tiba di asrama Kopasandha, Cijantung, terlihat ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat berdiri berbaris di sepanjang jalan. Mereka melambai-lambaikan tangannya menyambut para pahlawannya masing-masing.
Pada saat truk berhenti, berhamburanlah mereka mencari suami, ayah, keluarga atau teman mereka.
"Ada satu hal yang membuat saya menitikkan air mata ketika menyaksikan putra almarhum Koptu Samaun berlari kian kemari mencari ayahnya yang sudah gugur dan dikebumikan di Timor Timur," kenang Kapten Bambang sedih.
Rupanya sang ibu tak berani menceritakan pada anaknya bahwa sang ayah sudah gugur. Karena itu bocah malang itu masih berlari-lari ingin menyambut ayahnya yang hilang.
Kopral Satu Samaun gugur pada tanggal 7 Desember 1975 di tengah pertempuran merebut Kota Dili. Dia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi sersan dua.
Kamis, 23 Juli 2015
Gubernur DKI Ahok Desak Presiden Daftar Reog Ponorogo ke UNESCO
WARTA KOTA, BALAIKOTA -Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengapresiasi grup Reog Ponorogo di Jakarta, yang kerap meraih juara di tingkat nasional maupun internasional.
![]() |
| Warta Kota/Mohamad Yusuf |
Ahok pun berencana, menggelar Festival Reog Ponorogo, dengan Piala Gubernur.
Bahkan, ia berharap, agar Reog Ponorogo tersebut, bisa didaftarkan
ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
(UNESCO) sebagai warisan dunia.
"Selama ini komunitas reog yang ada di Jakarta paguyuban udah
membawa nama harum Pemda DKI. Kalau Juara kan DKI, terus kita juga ingin
kerjasama dengan Taman Mini (TMII) supaya ini dijadikan acara tahunan
yang lebih meriah, ada piala Gubernur gitu kan," kata Ahok,
seusai menerima Pengurus Komunitas Reog Ponorogo Periode 2015-2020, di
Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Balai Kota,
Rabu (22/7/2015).
Bahkan, lanjut Ahok, ia berharap, agar kesenian asal Jawa Timur itu, nantinya bisa didaftarkan ke UNESCO, sebagai warisan dunia.
Pasalnya, kesenian itu, pernah diklaim oleh Malaysia, sebagai kesenian dari negaranya.
"Kita juga berharap bisa mendaftarkan ke UNESCO, ini merupakan
sebuah seni. Jakarta mau daftarkan, bila perlu kita bikin sebuah
festival dunia reog di Jakarta. Dulu kan udah ada silat, kita udah ada
makanan rendang, kita harap reog ini juga mendunia," katanya.
Namun, ia juga berharap, agar nantinya setiap setiap klub, komunitas, atau paguyuban reog ponorogo juga memiliki akte.
Pasalnya, saat ini keberadaan para pecinta kesenian itu di Jakarta sendiri cukup banyak.
"Jadi kan dulu sempet ribut mau diambil Malaysia segala macam pada
demo, bahwa reog ini khas. Reog Ponorogo udah terkena lah, di setiap
festival pasti ada. Dan di Jakarta banyak sekali klubnya. Dulu kan
paguyuban, ini dibuat komunitas ada akte, berbadan hukum, pengurusnya
jelas, kita harap yang lain juga akan ikut atau mau bentuk lagi yang
baru silahkan. Tapi kita berharap semua tentu berakte, jadi jelas
seperti ini," jelasnya.
Dukung
Sementara itu, Anggota Dewan Pembina Komunitas Reog Ponorogo (KRP), Firmansyah, mengatakan, bahwa pihaknya mendukung rencana Ahok untuk mendaftarkan Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
"Karena yang perlu diingat adalah, bahwa Reog Ponorogo merupakan
salah satu warisan seni budaya kebanggaan Indonesia yang unik dan
memiliki nilai jual pariwisata tinggi. Jadi perlu dukungan berbagai
pihak," kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Olahraga dan
Pemuda (Kadisorda) DKI Jakarta, dalam acara tersebut.
Berbadan Hukum
Sedangkan, Ketua Badan Dewan Pembina Reog Ponorogo Singo Suryo
Budoyo, Suryo Mulyono, mengatakan, bahwa pihaknya, melakukan pertemuan
dengan Ahok untuk melaporkan, KRP telah memiliki badan hukum.
"Kami melaporkan kepada Pak Gubernur, bahwa saat ini, kommunitas
kami, KRP telah berbadan hukum. Beliau menyambut baik. Bahkan, beliau
bersedia menjadi penasehat Komunitas Reog Ponorogo ini," katanya.
Menurut Suryo, saat ini di dalam anggota KRP, terdapat 85 grup Reog Ponorogo.
Masing-masing grup, terdapat 60 hingga 70 orang.
"Sejak tahun 1980, Komunitas Reog Ponorogo telah menggelar berbagai
macam pertunjukan ke Filipina, Rusia dan negara lainnya," katanya.
Rabu, 18 Maret 2015
Ini penjelasan Jokowi soal penarikan 1.300 traktor dari Ponorogo
![]() |
| Jokowi bagi-bagi traktor di Ngawi. ©Setpres RI/Rusman |
"Siapa yang narik, itu kan dikumpulkan 1.300, enggak mungkin 1.300 untuk satu desa. Itu untuk lima kabupaten ya pasti dinaikin lagi ditaruh kabupaten-kabupaten, disebar," ujar Jokowi di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (18/3).
Jokowi menambahkan, dia tak mau memberikan penyerahan sekadar upacara simbolis saja dengan menyerahkan tiga atau lima unit traktor kepada warga. Ia hanya ingin memastikan seluruh traktor sudah siap untuk dibagikan saat mendatangi Ponorogo.
"Kumpulkan semuanya, oh barangnya ada setelah selesai dibagikan. Lalu dinaikkan, dibagikan, dan dibawa pulang ke masing-masing kabupaten," tandasnya.
Sebelumnya, sejumlah petani di Ponorogo mengeluh karena traktor tak jadi dibagikan. Padahal, traktor-traktor tersebut dijanjikan akan dibagi secara cuma-cuma kepada seluruh petani.
Janji itu disampaikan Jokowi berkunjung ke Ponorogo Jumat (6/3) dua pekan lalu waktu acara panen raya. Padahal dalam sambutannya saat panen raya tersebut Jokowi menyebutkan akan membagikan 41 ribu traktor yang sebagian akan dibagikan kepada petani di Ponorogo.
Namun usai kunjungan Jokowi, sebagian besar traktor yang dipajang di pinggir Jalan Raya Kecamatan Jetis menuju Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo diangkut kembali truk tronton.
"Katanya akan dibagikan kepada desa-desa di Ponorogo, namun kenyataannya ditarik kembali. Padahal di Ponorogo ini ada 21 kecamatan di 279 desa dan 26 kelurahan. Kami juga tidak tahu alasan penarikan tersebut. Padahal kalau mendapatkan kami akan senang," kata Bairun Kepada Desa Tanjungsari Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo pada merdeka.com, Selasa (17/3).
Kamis, 26 Februari 2015
Kisah panglima legendaris Brimob terharu diberi hormat Prabowo
Reporter : Yulistyo Pratomo |
Merdeka.com - Komisaris Jenderal Moehammad Jasin juga menjadi
sosok yang sangat berpengaruh di lingkungan Kepolisian Republik
Indonesia (Polri). Dulu Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa berperan
sangat besar dalam pertempuran Surabaya November 1945. Salah satunya keberaniannya menerobos desingan peluru musuh guna menghentikan tembak menembak.
Jasin juga yang membentuk Brigade Mobil (Brimob) atas penugasan dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Dia kelak diangkat menjadi bapak Brimob.
Ketika itu, tugas utamanya adalah mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban, salah satunya menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung hingga dua kali, serta teror pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung, dan terakhir melakukan pengamanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII. Jasin terus berkiprah di polisi hingga menjabat pangkat Komisaris Jenderal.
Ada kisah menarik bagaimana Jasin merasa sangat terharu. Panglima Legendaris Brimob itu tak bisa melupakan penghormatan yang diberikan Prabowo Subianto padanya.
Ketika itu, Prabowo yang masih menjabat sebagai Komandan Kopassus dan berpangkat Mayor Jenderal menghadiri HUT Polri ke-50 pada 1 Juli 1995 lalu. Kegiatan ini digelar besar-besaran oleh Kapolri Jenderal Dibyo Widodo di Senayan, Jakarta Pusat dan dihadiri Presiden Soeharto sekaligus inspektur upacara. Sejumlah pejabat negara, veteran, tokoh masyarakat hingga perwira ABRI ikut hadir.
Oleh panitia, Jasin ditempatkan di Tribun C bersama perwira tinggi ABRI dari ketiga angkatan serta Polri. Di tengah-tengah mereka juga terdapat Prabowo dengan lokasi duduknya hanya berjarak enam deret dari kursi Jasin.
Peringatan HUT Polri pun berlangsung hingga akhirnya menampilkan pembangunan Polri. Di saat bersamaan, melalui pengeras suara terdengar kalimat, "Pada 21 Agustus 1945 di Surabaya, inspektur Polisi Moehammad Jasin turun ke jalan bersama pasukan-pasukan Polisi Istimewa yang berbobot tempur berlaku patriotik bagi Republik Indonesia,"
Tanpa disangka-sangka, Prabowo mendekat ke kursi Jasin. Secara spontan dan tidak masuk dalam rangkaian acara, Prabowo berdiri tegap dan mengambil sikap hormat sempurna. Tindakan Prabowo itu kemudian diikuti oleh hampir seluruh jenderal, Laksamana dan Marsekal yang hadir.
Melihat itu, Jasin mengaku sangat terharu. Dia mengaku tidak pernah mengharapkan perlakuan tersebut.
Kisah tersebut ditulis dalam buku 'Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia' yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.
"Itu adalah bukti bahwa generasi muda masih menghargai generasi pejuang kemerdekaan," kata Jasin memuji sikap Prabowo.
![]() |
| Jenderal Moehammad Jasin. ©buku Gramedia Pustaka Utama/Memoar Jasin Sang Polisi Pejuan |
Jasin juga yang membentuk Brigade Mobil (Brimob) atas penugasan dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Dia kelak diangkat menjadi bapak Brimob.
Ketika itu, tugas utamanya adalah mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban, salah satunya menghadapi Agresi Militer Belanda yang berlangsung hingga dua kali, serta teror pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung, dan terakhir melakukan pengamanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII. Jasin terus berkiprah di polisi hingga menjabat pangkat Komisaris Jenderal.
Ada kisah menarik bagaimana Jasin merasa sangat terharu. Panglima Legendaris Brimob itu tak bisa melupakan penghormatan yang diberikan Prabowo Subianto padanya.
Ketika itu, Prabowo yang masih menjabat sebagai Komandan Kopassus dan berpangkat Mayor Jenderal menghadiri HUT Polri ke-50 pada 1 Juli 1995 lalu. Kegiatan ini digelar besar-besaran oleh Kapolri Jenderal Dibyo Widodo di Senayan, Jakarta Pusat dan dihadiri Presiden Soeharto sekaligus inspektur upacara. Sejumlah pejabat negara, veteran, tokoh masyarakat hingga perwira ABRI ikut hadir.
Oleh panitia, Jasin ditempatkan di Tribun C bersama perwira tinggi ABRI dari ketiga angkatan serta Polri. Di tengah-tengah mereka juga terdapat Prabowo dengan lokasi duduknya hanya berjarak enam deret dari kursi Jasin.
Peringatan HUT Polri pun berlangsung hingga akhirnya menampilkan pembangunan Polri. Di saat bersamaan, melalui pengeras suara terdengar kalimat, "Pada 21 Agustus 1945 di Surabaya, inspektur Polisi Moehammad Jasin turun ke jalan bersama pasukan-pasukan Polisi Istimewa yang berbobot tempur berlaku patriotik bagi Republik Indonesia,"
Tanpa disangka-sangka, Prabowo mendekat ke kursi Jasin. Secara spontan dan tidak masuk dalam rangkaian acara, Prabowo berdiri tegap dan mengambil sikap hormat sempurna. Tindakan Prabowo itu kemudian diikuti oleh hampir seluruh jenderal, Laksamana dan Marsekal yang hadir.
Melihat itu, Jasin mengaku sangat terharu. Dia mengaku tidak pernah mengharapkan perlakuan tersebut.
Kisah tersebut ditulis dalam buku 'Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia' yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.
"Itu adalah bukti bahwa generasi muda masih menghargai generasi pejuang kemerdekaan," kata Jasin memuji sikap Prabowo.
Jumat, 26 Desember 2014
Heboh Anak Wakil Bupati Ponorogo Pamer Mobil Mewah Sebelum Ibunya Jadi Tersangka Korupsi
TRIBUNNEWS.COM, PONOROGO - Kabar ditetapkannya Wakil Bupati Ponorogo, Yuni Widyaningsih
sebagai tersangka kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) membuat geger
warga di Kabupaten ini. Setiap sudut bumi reog ini membicarakan ibu
Wabup cantik yang biasa dipanggil mbak Ida.
Kehebohan juga melanda para netizen setelah postingan foto dan status sang anak Wabup yang cukup mencengangkan. Adalah Website Forum 1 cak memajang foto dan status anak sang Wabup di instagram yang terkesan 'pamer' kekayaan. "Just Status Instagram Anak Wabup Ponorogo Sebelum Emaknya Ditetapin Jadi Tersangka Korupsi Kemarin," demikian postingan di website ini yang kemudian menyebar ke media sosial lainnya seperti facebook.
Ramsarolanda, pemilik akun ini memajang foto mobil-mobil mewah dan menulis," Mobil di rumah ada 7 keren juga kalo senin crv, selasa mx5, rabu wrangler kamis pajero, jumat alphard, sabtu innova dan minggu camry.
Sontak, foto ini pun mengundang reaksi sinis. Anak Wakil Bupati Ponorogo ini disindir 'bersaing' dengan kekayaan keluarga Ratu Atut. "mau saingan banyakan mobil sama atut dan wawan ya bu, gile bener dah," tulis pemilik akun Andri Ma'ruf Anshori.
Senada, pemilik akun Ayuk Kuswindari mengomentari," nanti di penjara bikin trio sama Atut dan Rina iriani...
Kekayaan Mbak Ida memang sudah tersohor di Ponorogo. Ida yang sebelumnya dikenal sebagai istri dari pengusaha kontraktor dan pemilik Rumah Sakit swasta di kota ini memang membangun rumah yang untuk ukuran kota sekecil Ponorogo luar biasa mewah.
Pengguna akun Alfi Herlina menggambarkan bagaimana megahnya rumah Wakil Bupati Ponorogo."Rumah nya beuuh gede buanget,halaman depan nya aja mungkin bisa buat lapang bola,kata om q itu rumah paling bagus sekaresidenan madiun, ternyata dapet dari.......
Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo menambahkan Yuni Widyaningsih sebagai tersangka baru dalam pengadaan alat peraga Tahun 2012 senilai Rp 6 miliar untuk 121 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Tahun 2013 senilai Rp 2,1 miliar untuk 43 SDN se Kabupaten Ponorogo, Selasa (23/12/2014).
Penetapan terangka baru itu, paska tim penyidik melaksanakan gelar perkara di ruang Kepala Kejari Ponorogo, Sucipto. Penetapan tersangka baru itu dibacakan langsung oleh Kepala Kejari Ponorogo, Sucipto didampingi Kasi Pidsus, Yunianto Tri Wahyono dan Kasi Intel, Agus Kurniawan.
Sucipto mengatakan Wabup Ponorogo dijadikan tersangka baru dalam perkara ini lantaran diduga ikut mengkondisikan lelang pengadaan alat peraga Tahun 2012 dan Tahun 2013 itu bersama Direktur CV Global Inc, M Nur Sasongko. Selain itu, penetapan tersangka baru ini berdasarkan keterangan dari para tersangka sebelumnya yang diperiksa menjadi saksi-saksi dalam pengembangan dan saksi bagi tersangka liannya.
Kehebohan juga melanda para netizen setelah postingan foto dan status sang anak Wabup yang cukup mencengangkan. Adalah Website Forum 1 cak memajang foto dan status anak sang Wabup di instagram yang terkesan 'pamer' kekayaan. "Just Status Instagram Anak Wabup Ponorogo Sebelum Emaknya Ditetapin Jadi Tersangka Korupsi Kemarin," demikian postingan di website ini yang kemudian menyebar ke media sosial lainnya seperti facebook.
Ramsarolanda, pemilik akun ini memajang foto mobil-mobil mewah dan menulis," Mobil di rumah ada 7 keren juga kalo senin crv, selasa mx5, rabu wrangler kamis pajero, jumat alphard, sabtu innova dan minggu camry.
Sontak, foto ini pun mengundang reaksi sinis. Anak Wakil Bupati Ponorogo ini disindir 'bersaing' dengan kekayaan keluarga Ratu Atut. "mau saingan banyakan mobil sama atut dan wawan ya bu, gile bener dah," tulis pemilik akun Andri Ma'ruf Anshori.
Senada, pemilik akun Ayuk Kuswindari mengomentari," nanti di penjara bikin trio sama Atut dan Rina iriani...
Kekayaan Mbak Ida memang sudah tersohor di Ponorogo. Ida yang sebelumnya dikenal sebagai istri dari pengusaha kontraktor dan pemilik Rumah Sakit swasta di kota ini memang membangun rumah yang untuk ukuran kota sekecil Ponorogo luar biasa mewah.
Pengguna akun Alfi Herlina menggambarkan bagaimana megahnya rumah Wakil Bupati Ponorogo."Rumah nya beuuh gede buanget,halaman depan nya aja mungkin bisa buat lapang bola,kata om q itu rumah paling bagus sekaresidenan madiun, ternyata dapet dari.......
Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo menambahkan Yuni Widyaningsih sebagai tersangka baru dalam pengadaan alat peraga Tahun 2012 senilai Rp 6 miliar untuk 121 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Tahun 2013 senilai Rp 2,1 miliar untuk 43 SDN se Kabupaten Ponorogo, Selasa (23/12/2014).
Penetapan terangka baru itu, paska tim penyidik melaksanakan gelar perkara di ruang Kepala Kejari Ponorogo, Sucipto. Penetapan tersangka baru itu dibacakan langsung oleh Kepala Kejari Ponorogo, Sucipto didampingi Kasi Pidsus, Yunianto Tri Wahyono dan Kasi Intel, Agus Kurniawan.
Sucipto mengatakan Wabup Ponorogo dijadikan tersangka baru dalam perkara ini lantaran diduga ikut mengkondisikan lelang pengadaan alat peraga Tahun 2012 dan Tahun 2013 itu bersama Direktur CV Global Inc, M Nur Sasongko. Selain itu, penetapan tersangka baru ini berdasarkan keterangan dari para tersangka sebelumnya yang diperiksa menjadi saksi-saksi dalam pengembangan dan saksi bagi tersangka liannya.
Jumat, 24 Oktober 2014
Ritual mistis warga Ponorogo saat Satu Suro
Merdeka.com - Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di sebelah
selatan Provinsi Jawa Timur. Kota ini dulunya merupakan kadipaten di
bawah pimpinan orang sakti bernama Raden Bathoro Katong.
Tak hanya itu, di Ponorogo juga terkenal banyak jagoan-jagoan sakti yang dikenal dengan sebutan warok. Pujangga kenamakan Kraton Surakarta Ronggo Warsito pun pernah berdiam di kota Reog ini.
Menyambut bulan Suro, sebagai daerah yang kental budaya Jawa banyak ritual yang dilakukan oleh masyarakat Ponorogo. Ritual Grebeg Suro itu dimulai dari seminggu sebelum satu Suro sampai pagi harinya.
Berikut ritual Grebeg Suro di Ponorogo yang dihimpun merdeka.com, Sabtu (25/10):
Tak hanya itu, di Ponorogo juga terkenal banyak jagoan-jagoan sakti yang dikenal dengan sebutan warok. Pujangga kenamakan Kraton Surakarta Ronggo Warsito pun pernah berdiam di kota Reog ini.
Menyambut bulan Suro, sebagai daerah yang kental budaya Jawa banyak ritual yang dilakukan oleh masyarakat Ponorogo. Ritual Grebeg Suro itu dimulai dari seminggu sebelum satu Suro sampai pagi harinya.
Berikut ritual Grebeg Suro di Ponorogo yang dihimpun merdeka.com, Sabtu (25/10):
1.
Begadang semalam suntuk
Merdeka.com - Malam satu Suro merupakan gerbang
menuju bulan sakral bagi masyarakat Ponorogo. Mereka memilih tak tidur
semalaman guna menyambut bulan Suro ini.
"Kalau gini (malam satu Suro) tirakatan, lek-lekan masyarakat Ponorogo. Ada juga yang keliling di alun-alun," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Han menyatakan alun-alun menjadi pusat masyarakat Ponorogo memperingati malam satu Suro. Mereka menghabiskan malam sembari berbincang dengan sanak-saudara di sekitar alun-alun kota Reog.
"Kalau di Ponorogo memusatnya di alun-alun. Semua masyarakat yang mau jalan-jalan sampai malam di sana sekuat tenaga lek-lekan," terang dia.
Namun, dia menyebutkan kelompok Warok memilih tirakat di rumahnya sendiri. Kelompok orang-orang sakti ini menghindari keramaian masyarakat.
"Warok-warok biasanya malah di rumah bersama beberapa murid dan warganya. Karena di kota sudah ramai mereka menyepi di rumah dan sanggarnya," pungkas dia.
"Kalau gini (malam satu Suro) tirakatan, lek-lekan masyarakat Ponorogo. Ada juga yang keliling di alun-alun," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Han menyatakan alun-alun menjadi pusat masyarakat Ponorogo memperingati malam satu Suro. Mereka menghabiskan malam sembari berbincang dengan sanak-saudara di sekitar alun-alun kota Reog.
"Kalau di Ponorogo memusatnya di alun-alun. Semua masyarakat yang mau jalan-jalan sampai malam di sana sekuat tenaga lek-lekan," terang dia.
Namun, dia menyebutkan kelompok Warok memilih tirakat di rumahnya sendiri. Kelompok orang-orang sakti ini menghindari keramaian masyarakat.
"Warok-warok biasanya malah di rumah bersama beberapa murid dan warganya. Karena di kota sudah ramai mereka menyepi di rumah dan sanggarnya," pungkas dia.
2.
Jamasan pusaka Raden Bathoro Kathong
Merdeka.com - Selain tirakat semalam suntuk,
masyarakat Ponorogo menjamas pusaka (mencuci senjata) yang dimilikinya
menjelang Satu Suro. Mereka membersihkan pusaka itu agar kesaktiannya
tidak musnah.
"Tradisi ini istilahnya ngumbah pusaka dengan bunga tiga warna. Biasanya bunga Kantil, Mawar dan Melati," kata Budayawan Ponorogo Hans Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Han menyatakan tak sembarangan dalam mencuci pusaka sakti tersebut. Pemilik pusaka biasanya sudah berpuasa sebelum acara jamasan.
"Mereka ada puasa sebelum menjamas pusaka ini. Sehari atau tiga hari sebelumnya sesuai tradisi mereka," terang dia.
Lanjut dia, sore hari sebelum satu Suro, pusaka peninggalan Bathara Kathong pun dikirap dan dijamas. Hal ini sekaligus pengingat perpindahan pusat kota Ponorogo dari kota lama menuju kota baru.
"Kalau kirab pusaka sore tadi jam 4 sampai jam 5. Tombak peninggalan Adipati Bathoro Kathong yang sebelumnya diarak dari kota lama (makam Bathoro Kathong) sampai alun-alun sekaligus napak tilas perpindahan pusat kota," tandas dia.
"Tradisi ini istilahnya ngumbah pusaka dengan bunga tiga warna. Biasanya bunga Kantil, Mawar dan Melati," kata Budayawan Ponorogo Hans Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Han menyatakan tak sembarangan dalam mencuci pusaka sakti tersebut. Pemilik pusaka biasanya sudah berpuasa sebelum acara jamasan.
"Mereka ada puasa sebelum menjamas pusaka ini. Sehari atau tiga hari sebelumnya sesuai tradisi mereka," terang dia.
Lanjut dia, sore hari sebelum satu Suro, pusaka peninggalan Bathara Kathong pun dikirap dan dijamas. Hal ini sekaligus pengingat perpindahan pusat kota Ponorogo dari kota lama menuju kota baru.
"Kalau kirab pusaka sore tadi jam 4 sampai jam 5. Tombak peninggalan Adipati Bathoro Kathong yang sebelumnya diarak dari kota lama (makam Bathoro Kathong) sampai alun-alun sekaligus napak tilas perpindahan pusat kota," tandas dia.
3.
Larung kepala kerbau di Telaga Ngebel
Merdeka.com - Pagi hari tanggal Satu Suro, masyarakat
Ponorogo melakukan ritual larung sesaji bersama bupati dan tokoh
masyarakat. Ritual tersebut dilakukan di Telaga Ngebel.
"Paginya, warok-warok bersama bupatinya larung sesaji di Telaga Ngebel. Sekitar jam 7 pagi, kalau dulu kepala kerbau dihanyutkan di tengah telaga sekarang diganti hasil alam," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Lanjut dia, dulu masyarakat Ponorogo melakukan larung kepala kerbau guna menjinakkan naga yang berada di dasar Telaga Ngebel. Cerita itu sudah turun-temurun diyakini oleh warga kota Reog.
"Kalau larung kepala kerbau semacam mitos ada naga yang menjadi cikal bakal Telaga Ngebel, kalau dikasih kepala kerbau puas. Itu ceritanya dari mulut ke mulut orang-orang tua," terang dia.
http://www.merdeka.com/peristiwa/ritual-mistis-warga-ponorogo-saat-satu-suro/festival-reog-nasional-dan-reog-obyokan.html
"Paginya, warok-warok bersama bupatinya larung sesaji di Telaga Ngebel. Sekitar jam 7 pagi, kalau dulu kepala kerbau dihanyutkan di tengah telaga sekarang diganti hasil alam," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Lanjut dia, dulu masyarakat Ponorogo melakukan larung kepala kerbau guna menjinakkan naga yang berada di dasar Telaga Ngebel. Cerita itu sudah turun-temurun diyakini oleh warga kota Reog.
"Kalau larung kepala kerbau semacam mitos ada naga yang menjadi cikal bakal Telaga Ngebel, kalau dikasih kepala kerbau puas. Itu ceritanya dari mulut ke mulut orang-orang tua," terang dia.
http://www.merdeka.com/peristiwa/ritual-mistis-warga-ponorogo-saat-satu-suro/festival-reog-nasional-dan-reog-obyokan.html
Merdeka.com - Ponorogo identik dengan Tari Reog. Begitu pula menjelang Satu Suro, Reog akan tampil di alun-alun sejak seminggu sebelumnya.
"Di Ponorogo biasanya ada Festival Reog Nasional satu minggu sebelumnya sudah mulai (menjelang satu Suro). Itu sekalian persebaran orang Ponorogo yang ke luar daerah bisa berkumpul," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Namun, sebelum ada festival, jelang satu Suro Reog biasa dipentaskan masyarakat Ponorogo di jalanan. Mereka menari di tempat-tempat yang disakralkan oleh warga sekitar.
"Kalau dulu, Reog di Ponorogo obyokan dari jalan ke jalan. Mereka berhenti di rumah Pak Lurah, pohon keramat dan sumber mata air," terang dia.
Masih menurutnya, hal itu masih ada sampai sekarang walaupun di desa-desa. Menurutnya ritual tersebut lebih menunjukkan kebudayaan asli Ponorogo.
"Kalau di desa-desa pinggiran masih (Reog obyokan). Konteks budayanya lebih baik dulu," pungkas dia.
"Di Ponorogo biasanya ada Festival Reog Nasional satu minggu sebelumnya sudah mulai (menjelang satu Suro). Itu sekalian persebaran orang Ponorogo yang ke luar daerah bisa berkumpul," kata Budayawan Ponorogo Han Gagas saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (24/10).
Namun, sebelum ada festival, jelang satu Suro Reog biasa dipentaskan masyarakat Ponorogo di jalanan. Mereka menari di tempat-tempat yang disakralkan oleh warga sekitar.
"Kalau dulu, Reog di Ponorogo obyokan dari jalan ke jalan. Mereka berhenti di rumah Pak Lurah, pohon keramat dan sumber mata air," terang dia.
Masih menurutnya, hal itu masih ada sampai sekarang walaupun di desa-desa. Menurutnya ritual tersebut lebih menunjukkan kebudayaan asli Ponorogo.
"Kalau di desa-desa pinggiran masih (Reog obyokan). Konteks budayanya lebih baik dulu," pungkas dia.
Rabu, 16 Juli 2014
Post Power Sindrom, BMI Ponorogo Ngamuk Di Airport Hong Kong.
KINDO Hk -Wednesday 16 July 2014 at 11:17 am.
Saudari kita, Endah mengalami tekanan jiwa dan mengamuk di airport ketika akan chek in untuk pulang ke Indonesia menggunakan Garuda Indonesia penerbangan pagi Rabu, 16/7.
Endah adalah seorang BMI yang berasal dari Karangmojo Balong, Ponorogo ini sudah hampir finish konrak, diperkirakan sekitar akhir September depan. Bekerja dengan baik dan tekun sebagai seorang 'pet-care' , di rumah majikan yang cukup perhatian dan baik.
Karena hampir selesai kontrak, sang majikan bertanya kepada Endah, apakah bersedia menyambung kontraknya atau tidak. Endah gamang, ragu dan mulai cemas tidak dapat mengambil keputusan, apakah pulang atau terus di Hong Kong. Namun akhirnya dia menjawab memilih pulang. Dengan demikian sang majikan mencari pengganti seorang BMI lain.
Sumber mengatakan, seminggu yang lalu pada saat pekerja pengganti baru melakukan sign kontrak dan diinterview di rumah majikan itu, Endah shock. Serta merta dia mulai mengamuk di rumah majikan dengan membuat tindakan yang tidak dapat dikontrol dan membahayakan dirinya dan orang lain. "Menyalakan kompor tanpa keperluan dan mambanting ricecooker". Kata sumber.
Namun sang majikan menyadari ke-alpaan Endah dan tidak memperkarakan walaupun dia membanting dan merusak apapun yang didekatnya. Endah akhirnya dievakuasi di shelter milik agensinya.
Sang agen memanggilkan kakak kandung Endah yang kebetulan juga berada di Hong Kong, kakanya bekerja di majikan lain. Endah merasa sedikit lega, siuman dan sadar setelah ditemani kakak-kandungnya. Agen dan kakak kandungnya serta majikanya sepakat memulangkan Endah pada hari ini, Rabu, 16/7. Pada mulanya Endah pun setuju dan dalam keadaan sadar untuk pulang.
Pulang, akan menghadapi kesulitan ekonomi, merasa kekurangan. Terus di Hong Kong, rasa rindu keluarga selalu menghantui. Endah tak dapat membuat keputusan. Post power syndrom yang tidak terkontrol Endah melakukan tindakan yang mengganggu orang lain di airport.
"Tidak mau antri chek in, dan menghalangi orang lain untuk chek in serta mengambil kunci gembok koper-koper BMI lain yang sedang antri atau menata barang, penumpang dilarang berangkat". Kata seorang saksi di airport.
"Pihak Front Desk Garuda Indonesia di Airport Hong Kong memanggilkan Polisi dan Polisi memanggilkan ambulance serta paramedis. Endah dibius dan dilarikan ke rumah sakit Queen Margaret , Mei Fo" kata kakak kandungnya, yang menemani Endah sejak semula. "Kini dia berbaring belum siuman, dan mohon dukungan sahabat BMI, dan juga do'a berkah Ramadan semoga adik segera mendapat rahmat dan kesabaran". Kata Endang, sang kakak kandung kepada Kindo ketika dikonfirmasi.
Staf konsulat tenaga kerja KJRI Gusstaf Elyas telah diberitahu masalah ini, dan akan segera melakukan tindakan yang layak untuk membantu sesuai prosedur yang diperlukan. (Kindo)
| " Semoga Cepat tenang, sehat, dan mendapat rizqi yang lebih baik. Al-Fatihah". |
Saudari kita, Endah mengalami tekanan jiwa dan mengamuk di airport ketika akan chek in untuk pulang ke Indonesia menggunakan Garuda Indonesia penerbangan pagi Rabu, 16/7.
Endah adalah seorang BMI yang berasal dari Karangmojo Balong, Ponorogo ini sudah hampir finish konrak, diperkirakan sekitar akhir September depan. Bekerja dengan baik dan tekun sebagai seorang 'pet-care' , di rumah majikan yang cukup perhatian dan baik.
Karena hampir selesai kontrak, sang majikan bertanya kepada Endah, apakah bersedia menyambung kontraknya atau tidak. Endah gamang, ragu dan mulai cemas tidak dapat mengambil keputusan, apakah pulang atau terus di Hong Kong. Namun akhirnya dia menjawab memilih pulang. Dengan demikian sang majikan mencari pengganti seorang BMI lain.
Sumber mengatakan, seminggu yang lalu pada saat pekerja pengganti baru melakukan sign kontrak dan diinterview di rumah majikan itu, Endah shock. Serta merta dia mulai mengamuk di rumah majikan dengan membuat tindakan yang tidak dapat dikontrol dan membahayakan dirinya dan orang lain. "Menyalakan kompor tanpa keperluan dan mambanting ricecooker". Kata sumber.
Namun sang majikan menyadari ke-alpaan Endah dan tidak memperkarakan walaupun dia membanting dan merusak apapun yang didekatnya. Endah akhirnya dievakuasi di shelter milik agensinya.
Sang agen memanggilkan kakak kandung Endah yang kebetulan juga berada di Hong Kong, kakanya bekerja di majikan lain. Endah merasa sedikit lega, siuman dan sadar setelah ditemani kakak-kandungnya. Agen dan kakak kandungnya serta majikanya sepakat memulangkan Endah pada hari ini, Rabu, 16/7. Pada mulanya Endah pun setuju dan dalam keadaan sadar untuk pulang.
Pulang, akan menghadapi kesulitan ekonomi, merasa kekurangan. Terus di Hong Kong, rasa rindu keluarga selalu menghantui. Endah tak dapat membuat keputusan. Post power syndrom yang tidak terkontrol Endah melakukan tindakan yang mengganggu orang lain di airport.
"Tidak mau antri chek in, dan menghalangi orang lain untuk chek in serta mengambil kunci gembok koper-koper BMI lain yang sedang antri atau menata barang, penumpang dilarang berangkat". Kata seorang saksi di airport.
"Pihak Front Desk Garuda Indonesia di Airport Hong Kong memanggilkan Polisi dan Polisi memanggilkan ambulance serta paramedis. Endah dibius dan dilarikan ke rumah sakit Queen Margaret , Mei Fo" kata kakak kandungnya, yang menemani Endah sejak semula. "Kini dia berbaring belum siuman, dan mohon dukungan sahabat BMI, dan juga do'a berkah Ramadan semoga adik segera mendapat rahmat dan kesabaran". Kata Endang, sang kakak kandung kepada Kindo ketika dikonfirmasi.
Staf konsulat tenaga kerja KJRI Gusstaf Elyas telah diberitahu masalah ini, dan akan segera melakukan tindakan yang layak untuk membantu sesuai prosedur yang diperlukan. (Kindo)
Sabtu, 05 Juli 2014
3 Dari 4 pelaku pencurian nasabah Bank ditembak polisi
Merdeka.com - Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Kota
membekuk komplotan spesialis penjahat pecah kaca nasabah bank yang biasa
beraksi di Kota Kediri. Empat pelaku diamankan di Semarang Jawa Tengah,
tiga di antaranya terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas akibat
melawan petugas, Sabtu (5/7)
Tiga dari empat tersangka yang dihujani timah panas petugas antara lain Heri Jogja (44) pengintai aksi, John Korea (26) joki sepeda motor dan Andik (20) eksekutor pemecah kaca, ketiganya warga Ponorogo. Sedangkan satu tersangka menyerahkan diri, Rahmad Faelani (27) yang juga warga Ponorogo tidak mendapat tembakan petugas.
Pengungkapan kasus ini setelah sebelumnya pada Jumat (4/7), Rudi Sentosa (33) warga Jalan Sriwijaya Kota Kediri melapor ke polisi setelah menjadi korban pencurian dengan modus pecah kaca mobil.
Peristiwa bermula korban mengambil uang di Bank BCA sebesar Rp 50 juta. Kemudian korban memarkir mobilnya di sebuah cafe di Jalan S Parman Kelurahan Tinalan Kota Kediri. Sekitar setengah jam kemudian korban mendengar suara kaca mobilnya dipecah orang disertai bunyi alarm dari mobil. Korban langsung keluar dan melihat kaca mobil sebelah kiri telah pecah sementara uang sebesar 50 juta yang disimpan dalam tas kresek warna hitam telah hilang.
Menurut Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Surono atas laporan Rudi dengan bukti identitas kendaraan Honda Vario nopol AE 4594 VA warna merah yang digunakan tersangka melakukan aksinya akhirnya polisi melakukan pengejaran.
"Sepeda motor yang dipakai pelaku diketahui korban dan hasil penyelidikan nopol kendaraan atas nama Rahmad Faelani warga Ponorogo. Dan kita datang ke rumah Rahmad. Namun ketiga pelaku lainnya kabur ke Semarang dan akhirnya kita kejar di daerah Banyu Urip,Semarang," ungkap Surono.
Atas keterangan Rahmad ketiga pelaku kemudian ditemukan, para tersangka sempat melawan dan akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan. Para tersangka kini sudah diamankan di Mapolres Kediri kota, setelah semalam perjalanan dari Semarang.
Tiga dari empat tersangka yang dihujani timah panas petugas antara lain Heri Jogja (44) pengintai aksi, John Korea (26) joki sepeda motor dan Andik (20) eksekutor pemecah kaca, ketiganya warga Ponorogo. Sedangkan satu tersangka menyerahkan diri, Rahmad Faelani (27) yang juga warga Ponorogo tidak mendapat tembakan petugas.
Pengungkapan kasus ini setelah sebelumnya pada Jumat (4/7), Rudi Sentosa (33) warga Jalan Sriwijaya Kota Kediri melapor ke polisi setelah menjadi korban pencurian dengan modus pecah kaca mobil.
Peristiwa bermula korban mengambil uang di Bank BCA sebesar Rp 50 juta. Kemudian korban memarkir mobilnya di sebuah cafe di Jalan S Parman Kelurahan Tinalan Kota Kediri. Sekitar setengah jam kemudian korban mendengar suara kaca mobilnya dipecah orang disertai bunyi alarm dari mobil. Korban langsung keluar dan melihat kaca mobil sebelah kiri telah pecah sementara uang sebesar 50 juta yang disimpan dalam tas kresek warna hitam telah hilang.
Menurut Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Surono atas laporan Rudi dengan bukti identitas kendaraan Honda Vario nopol AE 4594 VA warna merah yang digunakan tersangka melakukan aksinya akhirnya polisi melakukan pengejaran.
"Sepeda motor yang dipakai pelaku diketahui korban dan hasil penyelidikan nopol kendaraan atas nama Rahmad Faelani warga Ponorogo. Dan kita datang ke rumah Rahmad. Namun ketiga pelaku lainnya kabur ke Semarang dan akhirnya kita kejar di daerah Banyu Urip,Semarang," ungkap Surono.
Atas keterangan Rahmad ketiga pelaku kemudian ditemukan, para tersangka sempat melawan dan akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan. Para tersangka kini sudah diamankan di Mapolres Kediri kota, setelah semalam perjalanan dari Semarang.
[hhw]
Sabtu, 21 Juni 2014
Anak Bung Karno dari istri keempat deklarasi dukung Prabowo
![]() |
| Anak Hartini Soekarno. ©2014 Merdeka.com/Moch. Andriansyah |
Dalam deklarasi itu, juga hadir anak kedua mantan Presiden RI pertama, Soekarno dari Hartini, perempuan asal Ponorogo. Dia adalah Diyah Bayurini atau yang akrab disapa Bayu Soekarno. Hartini adalah istri keempat Soekarno.
Menurut Bayu, dukungannya kepada Prabowo - Hatta, yang berbeda dengan anak Presiden Soekarno yang lain, adalah pilihan politik baginya.
"Ini adalah pilihan politik saya. Jadi tidak ada istilah menentang keluarga, meskipun rata-rata mereka (anak-anak Soekarno yang lain) dari PDIP," ucap Bayu di sela deklarasi.
Bayu, yang juga salah satu Ketua Tim Penasehat Pemenangan Prabowo-Hatta itu menyampaikan, Prabowo memiliki visi dan misi yang sesuai dengan perjuangan Bung Karno (Soekarno), yaitu menjadikan Indonesia menjadi negara yang disegani bangsa asing. Mantan Danjen Kopassus itu, kata dia, sosok calon pemimpin yang berani mengembalikan harkat dan martabat bangsa di mata dunia.
"Ini sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa. Kalau dulu para pendiri bangsa membuka pintu gerbang kemerdekaan, dan saat inilah, momentum bangsa ini untuk menggedorkan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa," dalih Bayu.
Sementara itu, dalam deklarasi Barisan Nusantara Jaya itu, selain digelar doa bersama dan pembacaan ayat suci Al Quran, juga ada acara bagi-bagi pin, dan pagelaran seni dan budaya yang menceritakan kisah para pendiri bangsa merebut kemerdekaan.
Kamis, 29 Mei 2014
MK Anulir Undang-Undang Koperasi
JPNN.Com JAKARTA - Mahkamah
Konstitusi (MK) memutuskan membatalkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012
tentang Perkoperasian. Mahkamah berpendapat undang-undang tersebut
bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat.
"UU Nomor 25 tahun 1992 tentang
Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya
UU yang baru," kata Ketua Majelis Hakim Hamdan Zoelva saat membacakan
amar putusan di Jakarta, Rabu (28/5).
Dalam pertimbangannya, Mahkamah menyebut
filosofi UU Perkoperasian ternyata tidak sesuai dengan hakikat susunan
perekonomian sebagai usaha bersama, dan berdasarkan asas kekeluargaan
yang termuat dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945.
Menurut Anggota Majelis Hakim Maria
Farida Indrati, pengertian koperasi ternyata telah dielaborasi dalam
pasal-pasal lain di dalam UU 17/2012, sehingga di suatu sisi mereduksi
atau bahkan menegaskan hak dan kewajiban anggota dengan menjadikan
kewenangan pengawas terlalu luas.
"UU 17/2012 ini mengutamakan skema
permodalan materiil dan finansial yang mengesampingkan modal sosial yang
justru menjadi ciri fundamental koperasi sebagai suatu entitas khas
pelaku ekonomi berdasarkan UUD 1945," kata Hakim Maria saat membacakan
pertimbangan hukumnya.
Pada sisi lain, lanjut Maria, koperasi
menjadi sama dan tidak berbeda dengan perseroan terbatas, sehingga
kehilangan roh konstitusionalnya sebagai entitas pelaku ekonomi khas
bagi bangsa yang berfilosofi gotong-royong.
"Dengan demikian, menurut mahkamah,
permohonan pemohon hanya mengenai pasal tertentu, namun oleh karena
pasal tersebut mengandung materi muatan norma subtansial yang menjadi
jantung UU 17/2012, sehingga jika hanya pasal-pasal tersebut yang
dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai hukum
mengikat maka akan menjadikan pasal-pasal lain tidak dapat befungsi
lagi," sambung Maria.
Pengujian UU 17/2012 ini sebelumnya
diajukan oleh Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GKPRI)
Provinsi Jawa Timur, Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) Jawa Timur, Pusat
Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati, Pusat Koperasi An-nisa Jawa
Timur, Pusat Koperasi BUEKA Assakinah Jawa Timur, Gabungan Koperasi Susu
Indonesia, Agung Haryono, dan Mulyono.(flo/jpnn)
Rabu, 30 April 2014
Delapan Arca di Pendapa Kabupaten Ponorogo Raib
TEMPO.CO, Ponorogo
- Delapan benda purbakala di Pendapa Pemerintah Kabupaten Ponorogo,
Jawa Timur, hilang. Benda purbakala yang hilang itu terdiri atas tiga
fragmen arca, yaitu arca Nandi, arca Agastya, dan arca Ganesha, serta
dua batu candi. Benda-benda itu merupakan bagian dari 25 obyek purbakala
yang masuk BPCB sejak 2001.
Raibnya benda yang mayoritas berupa fragmen arca peninggalan masa klasik Jawa Timur abad X-XV ini diduga karena minimnya perhatian pemerintah setempat. “Mereka (Pemkab Ponorogo) mungkin tidak tahu kalau obyek-obyek itu tetap memiliki nilai sejarah meski bentuknya sudah tidak utuh lagi,” kata Rizki Susantini, arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, saat dihubungi Tempo, Senin, 24 Februari 2014.
Arca-arca itu diketahui hilang saat BPCB mendata ulang jumlah obyek purbakala di Pendapa Kabupaten Ponorogo. Saat didata, hanya tersisa 17 benda. Mengetahui hal ini, arkeolog yang datang ke Ponorogo dua pekan lalu mengkonfirmasi ke Bagian Umum Pemkab Ponorogo. “Bagian Umum tidak tahu-menahu. Hilangnya delapan fragmen ini bisa diambil orang atau dialihkan karena dianggap sudah tidak memiliki nilai sejarah,” kata Rizki. BPCB berharap Pemkab Ponorogo mencari delapan benda purbakala yang hilang itu.
Kepala Subbagian Rumah Tangga Bagian Umum Pemkab Ponorogo Edy Sucipto berjanji akan terus mencari delapan benda bersejarah yang hilang. Beberapa hari lalu, koordinasi dengan satuan kerja yang bertugas membersihkan lingkungan sekretariat pemerintah setempat telah dijalankan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. “Coba konfirmasi ke Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga yang lebih mengerti tentang benda-benda bersejarah di sini,” ujar Edy.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Ponorogo Sapto Jatmiko tak yakin delapan benda purbakala itu benar-benar hilang karena belum menerima laporan tertulis dari BPCB. “Apakah hilang, ketlisut, atau salah verifikasinya, kami belum bisa memastikan.”
Raibnya benda yang mayoritas berupa fragmen arca peninggalan masa klasik Jawa Timur abad X-XV ini diduga karena minimnya perhatian pemerintah setempat. “Mereka (Pemkab Ponorogo) mungkin tidak tahu kalau obyek-obyek itu tetap memiliki nilai sejarah meski bentuknya sudah tidak utuh lagi,” kata Rizki Susantini, arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, saat dihubungi Tempo, Senin, 24 Februari 2014.
Arca-arca itu diketahui hilang saat BPCB mendata ulang jumlah obyek purbakala di Pendapa Kabupaten Ponorogo. Saat didata, hanya tersisa 17 benda. Mengetahui hal ini, arkeolog yang datang ke Ponorogo dua pekan lalu mengkonfirmasi ke Bagian Umum Pemkab Ponorogo. “Bagian Umum tidak tahu-menahu. Hilangnya delapan fragmen ini bisa diambil orang atau dialihkan karena dianggap sudah tidak memiliki nilai sejarah,” kata Rizki. BPCB berharap Pemkab Ponorogo mencari delapan benda purbakala yang hilang itu.
Kepala Subbagian Rumah Tangga Bagian Umum Pemkab Ponorogo Edy Sucipto berjanji akan terus mencari delapan benda bersejarah yang hilang. Beberapa hari lalu, koordinasi dengan satuan kerja yang bertugas membersihkan lingkungan sekretariat pemerintah setempat telah dijalankan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. “Coba konfirmasi ke Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga yang lebih mengerti tentang benda-benda bersejarah di sini,” ujar Edy.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Ponorogo Sapto Jatmiko tak yakin delapan benda purbakala itu benar-benar hilang karena belum menerima laporan tertulis dari BPCB. “Apakah hilang, ketlisut, atau salah verifikasinya, kami belum bisa memastikan.”
Kamis, 06 Februari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
Langgar Kode Etik, Seluruh Hakim Pengadilan Agama Ponorogo Dihukum
Andi Saputra - detikNews
Jakarta - Kecuali ketua pengadilan, seluruh hakim di
Pengadilan Agama (PA) Ponorogo dihukum karena melanggar kode etik.
Hukuman Mahkamah Agung (MA) ini juga dijatuhkan dalam hukuman disiplin
periode Oktober-Desember 2013.
Seperti dilansir website MA, Selasa (28/1/2014), kesebelas hakim tersebut dihukum disiplin berupa teguran lisan. Hukuman ini sesuai Peraturan Bersama Komisi Yudisial (KY)-MA tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Perilaku Hakim. Tidak dijelaskan dalam hukuman tersebut apa yang dilanggar oleh mereka. Kesebelas orang tersebut adalah:
1. Dra Hj At Khy MH (hakim dan Wakil Ketua PA)
2. Drs Prn MHum (hakim)
3. Drs Amd SH MHum (hakim)
4. Lkm Abd SH MH (hakim)
5. Drs M Ars SH (hakim)
6. Drs HM Yz Alf SH (hakim)
7. Dra Snr SH (hakim)
8. Drs Akh Zl MHum (hakim)
9. Drs Jrm Arf (hakim)
10. Drs Mry (hakim)
11. Drs Mnl Ihw (hakim)
Total hukuman periode Oktober-Desember 2013 sebanyak 23 orang hakim dan 1 calon hakim dan sisanya PNS. Masuk dalam daftar hukuman tersebut Ketua PN Tnd, Jn Plyn SH MH dengan hukuman pernyataan tidak puas secara tertulis.
Masuk juga dalam daftar hukuman yaitu hukuman pemecatan yang dijatuhkan kepada hakim PN Jombang Vica Natalia dan hakim PN Binjai Raja Lumban Tobing.
![]() |
| Gedung Mahkamah Agung (ari saputra/detikcom) |
Seperti dilansir website MA, Selasa (28/1/2014), kesebelas hakim tersebut dihukum disiplin berupa teguran lisan. Hukuman ini sesuai Peraturan Bersama Komisi Yudisial (KY)-MA tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Perilaku Hakim. Tidak dijelaskan dalam hukuman tersebut apa yang dilanggar oleh mereka. Kesebelas orang tersebut adalah:
1. Dra Hj At Khy MH (hakim dan Wakil Ketua PA)
2. Drs Prn MHum (hakim)
3. Drs Amd SH MHum (hakim)
4. Lkm Abd SH MH (hakim)
5. Drs M Ars SH (hakim)
6. Drs HM Yz Alf SH (hakim)
7. Dra Snr SH (hakim)
8. Drs Akh Zl MHum (hakim)
9. Drs Jrm Arf (hakim)
10. Drs Mry (hakim)
11. Drs Mnl Ihw (hakim)
Total hukuman periode Oktober-Desember 2013 sebanyak 23 orang hakim dan 1 calon hakim dan sisanya PNS. Masuk dalam daftar hukuman tersebut Ketua PN Tnd, Jn Plyn SH MH dengan hukuman pernyataan tidak puas secara tertulis.
Masuk juga dalam daftar hukuman yaitu hukuman pemecatan yang dijatuhkan kepada hakim PN Jombang Vica Natalia dan hakim PN Binjai Raja Lumban Tobing.
Rabu, 16 Oktober 2013
Ini kisah nestapa nenek Astuti, veteran perang dari Surabaya
Reporter : Moch. Andriansyah
Merdeka.com - Pasca tumbangnya Orde Lama hingga enam kali
Presiden RI berganti wajah, nasib veteran BKR Laut, Letnan dua (Letda)
Soegeng Setijoso dan istrinya Astusti, yang juga veteran Palang Merah
Indonesia (PMI), begitu miris. Dengan uang pensiun yang tak seberapa,
keduanya menghidupi empat anak yang mengalami keterbelakangan mental.
Mendengar informasi ini, merdeka.com makin tergelitik untuk mencari tahu kehidupan sepasang veteran perang kemerdekaan tersebut. Setelah hampir seharian mencari informasi keberadaan keduanya, akhirnya diketahui kalau mereka tinggal di Jalan Kalibokor Kencana II/12, Surabaya, Jawa Timur.
Di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan roda dua saja itu, keduanya tinggal. Sebelumnya, tak ada yang tahu kalau Soegeng dan Astuti adalah bekas pejuang kemerdekaan. Mereka hanya dikenal sepasang tua yang memiliki empat anak dengan keterbelakangan mental.
Sayangnya, saat ditemui Letda Soegeng sudah almarhum. Dia meninggal sejak enam tahun silam. Dan tinggalah Astuti dengan empat anaknya. Dia hidup dari uang pensiunnya yang tak seberapa. "Pak Soegengnya sudah meninggal enam tahun lalu. Sekarang ya tinggal istrinya sama satu orang anaknya. Dua anaknya lagi dititipkan di Liponsos, satunya lagi sudah meninggal saat berada di Liponsos," kata istri Ketua RW VII Kalibokor Kencana, Nur.
Diceritakan Nur dan beberapa warga setempat, dulu sebelum Soegeng dan Astuti diketahui sebagai mantan pejuang kemerdekaan, mereka tinggal di gubuk reot. Baru dua tahun lalu, tepatnya pada 2011, rahasia mereka sebagai veteran perang terbongkar. Saat itu, Soegeng sudah wafat.
"Mereka hidup susah. Bahkan, untuk makan saja susah. Pernah suatu ketika, mereka sudah tidak punya uang untuk makan. Empat anaknya berada di depan rumah sambil membawa rantang plastik meminta makan kepada setiap orang yang lewat," kata Nur bercerita.
Kejadian yang tak pernah terjadi saat mendiang Letda Soegeng masih hidup itu, makin membuat warga sekitar bertanya-tanya. Bahkan, kondisi rumah milik veteran perang itupun tampak kumuh. Kotor dan bau yang sangat menyengat hidung tetangga kanan kiri, juga bagi siapa saja yang lewat di depan rumah.
Ketua RW yang diminta untuk mengecek kondisi dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu, akhirnya menuruti permintaan warganya. "Sekarang, sudah bersih. Dulu, jangankan mau masuk rumah, lewat di depan rumahnya saja, nggak kuat. Baunya minta ampun. Mulai bau kotoran sampai bau kencing. Pokonya pingin muntah kalau mau lewat di depan rumahnya," terang warga sekitar.
"Ya bagaimana tidak bau, wong ketika saya masuk rumahnya itu, waduuuhh, sampah bekas bungkus makanan sudah penuh satu rumah. Mereka kencing di situ, buang air besar juga di situ, bahkan dioles-oleskan ke dinding juga. Tidak pernah mandi juga. Ya mau gimana lagi, wong mentalnya kayak begitu. Ibunya juga sudah tua," sahut Nur.
Mengetahui kondisi yang amat parah itu, Nur meminta bantuan kelurahan dan pihak kecamatan, yang akhirnya ikut datang ke gubuk almarhum Soegeng dan Astuti. Bahkan, para perangkat kampung juga membawa dokter dari puskesmas setempat untuk memeriksa kondisi kesehatan seisi rumah.
Warga akhirnya membantu membersihkan gubuk reot milik Soegeng dan Astuti. Saat itu lah, salah satu pegawai kecamatan terkejut melihat 'Surat Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia' usang yang terbingkai di dinding rumah.
Surat tanda kehormatan itu, ditujukan kepada Letda Soegeng. "Loh ini kan sama persis dengan yang dimiliki ayah saya. Mereka ini veteran perang," kata Nur menirukan kalimat yang terlontar dari mulut pegawai kecamatan.
Lantas mereka mengundang Kodim 0831, Surabaya. "Wah, akhirnya ramai, banyak yang ke sini. Trus dilakukan bedah rumah itu. Sekarang rumahnya bagus. Dan dua anaknya dibawa ke Liponsos, karena di sini tidak ada yang merawat. Sebelumnya sempat dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Karena tidak ada yang tanggung jawab merawat, akhirnya dipindah di Liponsos itu. Satu anaknya lagi meninggal. Tinggal satu itu yang tinggal sama Ibu Astuti," lanjut Nur berkisah.
Sejak saat itu, Astuti banyak dibantu warga sekitar, selain mengandalkan uang pensiun, yang kini hanya Rp 1,3 juta per bulan. Setiap hari, Nur selalu menengoknya, untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan Astuti. "Sekarang yang merawat setiap hari ya Ibu RW (Nur), warga juga ikut bantu-bantu nyumbang," ucap warga yang lain.
Sementara itu, saat ditemui di rumahnya, Astuti dengan tubuh rentanya menyambut dengan senyum ramah. Dengan tongkat kayunya, nenek berusia 77 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Perempuan tua yang mengenakan kerudung hitam dan daster batik warna coklat itu berjalan ke sudut ruang tamu, menuju tombol stop contak lampu. Ups, lampunya mati.
Akhirnya, dengan hanya penerangan dari balik ruang tengah, Astuti mengisahkan perjuangannya semasa perang kemerdekaan. Mesti tubuhnya yang renta dan ingatan yang kadang menerawang, dia bercerita cukup baik.
Jam dinding menunjuk pukul 18.15 WIB, nenek Astuti pun memulai ceritanya. "Zaman dulu, tentara Jepang itu sangat kejam. Mereka itu paling kejam dibanding Belanda, siapa saja yang bikin salah langsung dibunuh. Tapi dulu itu, jalan kaki nggak pakai sendal kaki tetap kuat, kalau sekarang, biar pakai sandal atau sepatu, kaki tetap kena beling," cerita dia dengan logat Jawa.
Tubuh renta itu, juga menunjukkan surat tanda kehormatan untuk suaminya dari Presiden Soekarno, yang masih menempel rapi di dinding rumah. "Sekarang ya sudah pensiun. Sejak almarhum Bung Karno tidak lagi memimpin, saya dan suami saya tidak lagi di kesatuan. Kami hidup ya dari uang pensiun, tidak pernah ada bantuan apa-pun dari pemerintah," kata nenek renta itu menerawang.
Di balik surat itu, terdapat tulisan tangan dari almarhum Soegeng, yang ternyata itu adalah nyanyian ciptaannya selama masa perjuangan, berikut fotonya. Lirik lagu itu berjudul "Hiburan Gerilya". Berikut petikan lagunya :
Di mana aku berada ini
jauh ayah dan ibuku
Kelelahan yang menimpa diri
tak mengenal waktu
Siang malam aku menderita
rintangan silih berganti
Berat senjata yang kubawanya
tetap kusayangi
Tetapi apa dayaku harus menetapi
ibu pertiwi mengharap jasaku
Mengabdi pada nusa dan bangsa
untuk merdeka!!
![]() | |
| Nenek Astuti veteran perang dari Surabaya. ©2013 Moch Andriansyah |
Mendengar informasi ini, merdeka.com makin tergelitik untuk mencari tahu kehidupan sepasang veteran perang kemerdekaan tersebut. Setelah hampir seharian mencari informasi keberadaan keduanya, akhirnya diketahui kalau mereka tinggal di Jalan Kalibokor Kencana II/12, Surabaya, Jawa Timur.
Di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan roda dua saja itu, keduanya tinggal. Sebelumnya, tak ada yang tahu kalau Soegeng dan Astuti adalah bekas pejuang kemerdekaan. Mereka hanya dikenal sepasang tua yang memiliki empat anak dengan keterbelakangan mental.
Sayangnya, saat ditemui Letda Soegeng sudah almarhum. Dia meninggal sejak enam tahun silam. Dan tinggalah Astuti dengan empat anaknya. Dia hidup dari uang pensiunnya yang tak seberapa. "Pak Soegengnya sudah meninggal enam tahun lalu. Sekarang ya tinggal istrinya sama satu orang anaknya. Dua anaknya lagi dititipkan di Liponsos, satunya lagi sudah meninggal saat berada di Liponsos," kata istri Ketua RW VII Kalibokor Kencana, Nur.
Diceritakan Nur dan beberapa warga setempat, dulu sebelum Soegeng dan Astuti diketahui sebagai mantan pejuang kemerdekaan, mereka tinggal di gubuk reot. Baru dua tahun lalu, tepatnya pada 2011, rahasia mereka sebagai veteran perang terbongkar. Saat itu, Soegeng sudah wafat.
"Mereka hidup susah. Bahkan, untuk makan saja susah. Pernah suatu ketika, mereka sudah tidak punya uang untuk makan. Empat anaknya berada di depan rumah sambil membawa rantang plastik meminta makan kepada setiap orang yang lewat," kata Nur bercerita.
Kejadian yang tak pernah terjadi saat mendiang Letda Soegeng masih hidup itu, makin membuat warga sekitar bertanya-tanya. Bahkan, kondisi rumah milik veteran perang itupun tampak kumuh. Kotor dan bau yang sangat menyengat hidung tetangga kanan kiri, juga bagi siapa saja yang lewat di depan rumah.
Ketua RW yang diminta untuk mengecek kondisi dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu, akhirnya menuruti permintaan warganya. "Sekarang, sudah bersih. Dulu, jangankan mau masuk rumah, lewat di depan rumahnya saja, nggak kuat. Baunya minta ampun. Mulai bau kotoran sampai bau kencing. Pokonya pingin muntah kalau mau lewat di depan rumahnya," terang warga sekitar.
"Ya bagaimana tidak bau, wong ketika saya masuk rumahnya itu, waduuuhh, sampah bekas bungkus makanan sudah penuh satu rumah. Mereka kencing di situ, buang air besar juga di situ, bahkan dioles-oleskan ke dinding juga. Tidak pernah mandi juga. Ya mau gimana lagi, wong mentalnya kayak begitu. Ibunya juga sudah tua," sahut Nur.
Mengetahui kondisi yang amat parah itu, Nur meminta bantuan kelurahan dan pihak kecamatan, yang akhirnya ikut datang ke gubuk almarhum Soegeng dan Astuti. Bahkan, para perangkat kampung juga membawa dokter dari puskesmas setempat untuk memeriksa kondisi kesehatan seisi rumah.
Warga akhirnya membantu membersihkan gubuk reot milik Soegeng dan Astuti. Saat itu lah, salah satu pegawai kecamatan terkejut melihat 'Surat Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia' usang yang terbingkai di dinding rumah.
Surat tanda kehormatan itu, ditujukan kepada Letda Soegeng. "Loh ini kan sama persis dengan yang dimiliki ayah saya. Mereka ini veteran perang," kata Nur menirukan kalimat yang terlontar dari mulut pegawai kecamatan.
Lantas mereka mengundang Kodim 0831, Surabaya. "Wah, akhirnya ramai, banyak yang ke sini. Trus dilakukan bedah rumah itu. Sekarang rumahnya bagus. Dan dua anaknya dibawa ke Liponsos, karena di sini tidak ada yang merawat. Sebelumnya sempat dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Karena tidak ada yang tanggung jawab merawat, akhirnya dipindah di Liponsos itu. Satu anaknya lagi meninggal. Tinggal satu itu yang tinggal sama Ibu Astuti," lanjut Nur berkisah.
Sejak saat itu, Astuti banyak dibantu warga sekitar, selain mengandalkan uang pensiun, yang kini hanya Rp 1,3 juta per bulan. Setiap hari, Nur selalu menengoknya, untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan Astuti. "Sekarang yang merawat setiap hari ya Ibu RW (Nur), warga juga ikut bantu-bantu nyumbang," ucap warga yang lain.
Sementara itu, saat ditemui di rumahnya, Astuti dengan tubuh rentanya menyambut dengan senyum ramah. Dengan tongkat kayunya, nenek berusia 77 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Perempuan tua yang mengenakan kerudung hitam dan daster batik warna coklat itu berjalan ke sudut ruang tamu, menuju tombol stop contak lampu. Ups, lampunya mati.
Akhirnya, dengan hanya penerangan dari balik ruang tengah, Astuti mengisahkan perjuangannya semasa perang kemerdekaan. Mesti tubuhnya yang renta dan ingatan yang kadang menerawang, dia bercerita cukup baik.
Jam dinding menunjuk pukul 18.15 WIB, nenek Astuti pun memulai ceritanya. "Zaman dulu, tentara Jepang itu sangat kejam. Mereka itu paling kejam dibanding Belanda, siapa saja yang bikin salah langsung dibunuh. Tapi dulu itu, jalan kaki nggak pakai sendal kaki tetap kuat, kalau sekarang, biar pakai sandal atau sepatu, kaki tetap kena beling," cerita dia dengan logat Jawa.
Tubuh renta itu, juga menunjukkan surat tanda kehormatan untuk suaminya dari Presiden Soekarno, yang masih menempel rapi di dinding rumah. "Sekarang ya sudah pensiun. Sejak almarhum Bung Karno tidak lagi memimpin, saya dan suami saya tidak lagi di kesatuan. Kami hidup ya dari uang pensiun, tidak pernah ada bantuan apa-pun dari pemerintah," kata nenek renta itu menerawang.
Di balik surat itu, terdapat tulisan tangan dari almarhum Soegeng, yang ternyata itu adalah nyanyian ciptaannya selama masa perjuangan, berikut fotonya. Lirik lagu itu berjudul "Hiburan Gerilya". Berikut petikan lagunya :
Di mana aku berada ini
jauh ayah dan ibuku
Kelelahan yang menimpa diri
tak mengenal waktu
Siang malam aku menderita
rintangan silih berganti
Berat senjata yang kubawanya
tetap kusayangi
Tetapi apa dayaku harus menetapi
ibu pertiwi mengharap jasaku
Mengabdi pada nusa dan bangsa
untuk merdeka!!
[mtf]
SBY: Kali pertama menjabat presiden APBN Rp 400 Triliun, Sekarang Rp 1800 Triliun
Oleh : DESK INFORMASI
Pada hari kedua
kunjungannya ke Pacitan, Jawa Timur, Rabu (16/10), Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan sejumlah proyek infrastruktur di
Pusat Tenaga Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Jawa Timur, Pacitan.
Proyek-proyek yang diresmikan itu adalah PLTU 2 Paiton, PLTU 1 Rembang,
PLTU 3 Lontar, Gelanggang Olahraga (GOR) dan Stadion Pacitan, Masjid
Agung Darul Falah Pacitan, dan proyek-proyek dari Kementrian Pekerjaan
Umum.
Dengan
menekan tombol sirene dan menandatangani prasasti, Presiden SBY
meresmikan sejumlah proyek tersebut didampingi sejumlah menteri Kabinet
Indonesia Bersatu (KIB) II, Dirut PLN, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
Presiden juga melakukan peninjauan di beberapa titik di PLTU 1 Pacitan.
Dalam
sambutannya, Presiden SBY mengapresiasi seluruh pihak yang turut
mewujudkan pembangunan proyek-proyek di Pacitan ini. "Saya lahir di
Pacitan, sekolah dari SD-SMA di Pacitan, dan setelah itu baru
mengembara. Satu lagi kebanggaan Pacitan dibangun. Apresiasi saya
sampaikan kepada seluruh pihak yang terus bekerja keras membangun daerah
semakin maju," ujar Presiden SBY.
SBY juga bercerita bahwa dulu hampir setiap tahun mengujungi daerah asalnya. Namun setelah menjadi seorang Presiden, lawatan ke Pacitan biasanya dilakukan sekali dalam dua tahun. "Saya minta masyarakat Pacitan untuk sabar, karena saya harus adil memerhatikan saudara-saudara kita di dearah lain di Indonesia. Ketika dua tahun sekali saya berkunjung ke sini, pasti selalu ada kemajuan. Terima kasih untuk semuanya," kata SBY menambahkan.
SBY juga bercerita bahwa dulu hampir setiap tahun mengujungi daerah asalnya. Namun setelah menjadi seorang Presiden, lawatan ke Pacitan biasanya dilakukan sekali dalam dua tahun. "Saya minta masyarakat Pacitan untuk sabar, karena saya harus adil memerhatikan saudara-saudara kita di dearah lain di Indonesia. Ketika dua tahun sekali saya berkunjung ke sini, pasti selalu ada kemajuan. Terima kasih untuk semuanya," kata SBY menambahkan.
Dalam
kesempatan itu Presiden SBY,mengungkapkan, saat pertama kali memimpin
Indonesia di 2004, nilai belanja APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara) mencapai Rp 400 triliun. Tapi saat ini, yaitu di 2013, nilai
belanja APBN sudah mencapai Rp 1.800 triliun.
"Pertama kali saya menjabat sebagai Presiden 2004 APBN kita mencapai Rp 400 triliun, saat ini negara ini terus berkembang APBN-nya sekarang hampir mencapai Rp 1.800 triliun. Ini patut kita syukuri," kata SBY dalam sambutannya di acara Peresmian Proyek-Proyek Infrastruktur di Pacitan itu.
SBY mengakui, walau nilai belanja dalam APBN meningkat pesat, namun sebagian besar digunakan untuk membayar utang di masa lalu. "Jumlah itu (APBN) sebagian digunakan untuk membayar pinjaman kita sejak dulu kala, dan sebagian lagi yang jumlahnya tidak kecil yakni untuk subsidi, BBM, pupuk, dan lainnya untuk menolong rakyat kita yang tidak mampu," katanya.
"Pertama kali saya menjabat sebagai Presiden 2004 APBN kita mencapai Rp 400 triliun, saat ini negara ini terus berkembang APBN-nya sekarang hampir mencapai Rp 1.800 triliun. Ini patut kita syukuri," kata SBY dalam sambutannya di acara Peresmian Proyek-Proyek Infrastruktur di Pacitan itu.
SBY mengakui, walau nilai belanja dalam APBN meningkat pesat, namun sebagian besar digunakan untuk membayar utang di masa lalu. "Jumlah itu (APBN) sebagian digunakan untuk membayar pinjaman kita sejak dulu kala, dan sebagian lagi yang jumlahnya tidak kecil yakni untuk subsidi, BBM, pupuk, dan lainnya untuk menolong rakyat kita yang tidak mampu," katanya.
Melalui
akun twitternya @SBYudhoyono, Presiden SBY mengatakan, , pada 2004,
Indonesia miliki daya listrik 25.100 MW. Sedang pada 2013 naik pesat
jadi 46.000 MW. "Mari kita syukuri dan tingkatkan kemajuan ini," tulis
Presiden.
Acara
peresmian proyek-proyek infrastruktur di Pacitan itu dihadiri pula oleh
Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam,
Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Kehutanan Zulkilfli Hasan,Menteri PU
Djoko Kirmanto, Mendikbud Muhammad Nuh, Menpora Roy Suryo, Menparekraf
Mari Elka Pangestu, dan Ketua KEN Chairul Tandjung.
(Humas Setkab/WID/ES)
Minggu, 13 Oktober 2013
Kisah terbunuhnya dr Kariadi dan pertempuran 5 hari di Semarang
Reporter : Parwito .MERDEKA.COM
Pertempuran 5 hari di Semarang merupakan rangkaian pertempuran antara
rakyat Indonesia melawan tentara Jepang pada masa transisi. Pertempuran
yang dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945, yang didahului dengan
situasi memanas sebelumnya ini berakhir hingga pada tanggal 20 Oktober
1945.
Pertempuran ini dimulai dengan peristiwa tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa pada Pada 1 Maret 1942. Seminggu kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1945, pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Mulai saat itu, Indonesia diduduki dan dijajah oleh tentara Jepang.
Tiga tahun penjajahan berlangsung, pada Agustus 1945 tentara Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu paska dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Kabar berita Proklamasi dari Jakarta akhirnya terdengar hingga sampai ke Kota Semarang. Layaknya terjadi di kota-kota lain, di Semarang rakyat khususnya pemuda-pemudinya berusaha untuk melucuti senjata Tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh, Semarang.
Tanggal 13 Oktober, suasana semakin mencekam, Tentara Jepang semakin terdesak. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan senjata sama sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri. Aula Rumah Sakit Purusara kini menjadi RS Dr Kariadi Semarang, dijadikan markas perjuangan. Para pemuda rumah sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya menghadapi Jepang. Sementara itu taktik perjuangan pemuda menggunakan taktik perang bergerilya.
Setelah pernyataan Mayor Kido, Pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu.
Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama, Kota Semarang. Kedelapan anggota polisi istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.
Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda.
Istri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran.
Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan. Kejadian ini merupakan penyulut utama Perang Lima Hari di Semarang.
Sekitar pukul 03.00 WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan sekitar 1.000 tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Sementara itu, berita gugurnya dr Kariadi yang dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota. Korban berjatuhan di mana-mana.
Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta gencatan senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung. Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di berbagai penjuru Kota Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000 pejuang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr Kariadi dan delapan karyawan RS Purusara Kota Semarang
![]() |
| Lawang Sewu. wordpress.com |
Pertempuran ini dimulai dengan peristiwa tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa pada Pada 1 Maret 1942. Seminggu kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1945, pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Mulai saat itu, Indonesia diduduki dan dijajah oleh tentara Jepang.
Tiga tahun penjajahan berlangsung, pada Agustus 1945 tentara Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu paska dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Kabar berita Proklamasi dari Jakarta akhirnya terdengar hingga sampai ke Kota Semarang. Layaknya terjadi di kota-kota lain, di Semarang rakyat khususnya pemuda-pemudinya berusaha untuk melucuti senjata Tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh, Semarang.
Tanggal 13 Oktober, suasana semakin mencekam, Tentara Jepang semakin terdesak. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan senjata sama sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri. Aula Rumah Sakit Purusara kini menjadi RS Dr Kariadi Semarang, dijadikan markas perjuangan. Para pemuda rumah sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya menghadapi Jepang. Sementara itu taktik perjuangan pemuda menggunakan taktik perang bergerilya.
Setelah pernyataan Mayor Kido, Pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu.
Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama, Kota Semarang. Kedelapan anggota polisi istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.
Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda.
Istri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran.
Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan. Kejadian ini merupakan penyulut utama Perang Lima Hari di Semarang.
Sekitar pukul 03.00 WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan sekitar 1.000 tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Sementara itu, berita gugurnya dr Kariadi yang dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota. Korban berjatuhan di mana-mana.
Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta gencatan senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung. Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di berbagai penjuru Kota Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000 pejuang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr Kariadi dan delapan karyawan RS Purusara Kota Semarang
[hhw]
Minggu, 25 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)

















