Pemuda Panca Marga adalah Organisasi kemasyarakatan Pemuda yang bersifat kekeluargaan dan merupakan wadah berhimpun bagi Putera-Puteri Veteran Republik Indonesia beserta keturunannya yang memiliki hubungan kesejarahan, aspirasi, dan koordinasi dengan Legiun Veteran Republik Indonesia dan merupakan bagian dari Keluarga Besar TNI / Polri ( macabppm.ponorogo@gmail.com )
Jumat, 16 Agustus 2013
Saat pasukan TNI menangis haru melihat Jenderal Soedirman
Reporter : Ramadhian Fadillah-MERDEKA.COM
Suatu malam di belantara Jawa tahun 1949. Soedirman terbatuk-batuk
sepanjang malam dalam sebuah pondok reot di tengah hutan. Mantel
lusuhnya tidak mampu menahan udara dingin malam itu. Paru-parunya terus
digerus penyakit TBC yang makin parah.
Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.
Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.
Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.
Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.
Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.
Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu.
Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.
Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada.
Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.
Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.
Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.
Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.
Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan.
Mata para prajurit yang berbaris rapi itu basah oleh air mata. Dada mereka sesak saat memberikan penghormatan bersenjata pada Soedirman.
Semua tahu, gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.
Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.
Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.
![]() |
| Soedirman. blogspot.com |
Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.
Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.
Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.
Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.
Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.
Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu.
Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.
Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada.
Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.
Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.
Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.
Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.
Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan.
Mata para prajurit yang berbaris rapi itu basah oleh air mata. Dada mereka sesak saat memberikan penghormatan bersenjata pada Soedirman.
Semua tahu, gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.
Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.
Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.
[ian]
Sabtu, 13 Juli 2013
Jumat, 12 Juli 2013
REVITALISASI KONSTRUKSI KEBANGSAAN
| ACARA PP PPM TANGGAL 22 JULI 2013 |
1. Menemukenali
fenomena ancaman ril konstruksi kebangsaan Indonesia
2. Menggali
pemikiran-pemikiran inovatif yang berpeluang untuk lebih merekatkan konstruksi
kebangsaan Indonesia dalam berbagai pilar
3. Merumuskan
solusi cerdas dan efektif sebagai enerji integratif untuk membawa Indonesia
lebih maju dan sejahtera
Senin, 01 Juli 2013
Cerita menarik di balik pasukan polisi menangkap tokoh PKI Muso
![]() |
| Muso. wikipedia.org |
Hari ini, Kepolisian RI berulang tahun. Menarik menengok kembali kisah sukses polisi dalam berbagai operasi, seperti ketika menangkap tokoh PKI Muso.
Ceritanya, Hari Ulang Tahun Kepolisian Negara, 1 Juli 1948, dijadikan momentum pemberantasan komunis di Indonesia. Sebab, kelompok kiri tersebut berulah dengan melakukan pemberontakan terhadap pusat pemerintahan.
Di acara HUT Kepolisian Negara yang dihadiri sejumlah pimpinan pemerintahan, angkatan perang, instansi pemerintah dan pemuka masyarakat itu, Moehammad Jasin selaku komandan Mobiele Brigade Besar (MBB), cikal bakal Brimob, merangkap koordinator Mobiele Brigade (MB) Karesidenan se-Jatim meminta perintah khusus kepada R soemarto, Wakil Kepolisian Negara.
Perintah khusus itu adalah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang sejumlah wilayah yang menjadi basis dan melucuti senjata komunis.
"Jangan sekadar diperbantukan. Saya mohon agar Djawatan Kepolisian Negara memerintahkan saya untuk mempersiapkan MBB Jawa Timur. Jika perlu, menyertakan MB Karesidenan di Jawa Timur untuk melucuti senjata kesatuan-kesatuan kiri," kata Jasin kepada Soemarto seperti dikutip dalam buku 'Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang' terbitan Gramedia.
Dalang di balik gangguan keamanan dan kudeta di Yogyakarta, adalah Muso, dia merupakan tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI). Jasin dan pasukannya sudah beberapa menyerbu daerah yang menjadi basis komunis seperti Madiun, Surakarta atau Solo.
Ternyata Muso juga menjadikan Ponorogo, Jawa Timur, sebagai salah satu basis dalam mengatur kekuatan untuk menentang pemerintah. Pasukan Republik Indonesia menyerbu sarang Muso di Ponorogo, 31 Oktober 1948.
Namun, Muso terus menerus berhasil melarikan diri. Muso menyamar sebagai kusir dokar dan berhasil lolos melintasi pos pasukan republik tanpa dikenali.
Setelah Muso, kemudian ada sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Muso mengira mobil itu milik petugas yang sedang memburunya, dia salah karena mobil tersebut hanya kebetulan berada di belakangnya.
Tak ingin tertangkap, Muso menembaki mobil tersebut dari atas dokar. Aksi tembak menembak dengan petugas terjadi. Dengan lantang, Muso berteriak 'Muso tidak kenal menyerah!'.
Tersudut, Muso melarikan diri dan berlindung di kamar mandi milik penduduk desa yang terbuat dari gedhek. Dalam keadaan terdesak, Muso masih menembaki petugas. Polisi meminta pentolan PKI itu untuk menyerah, Muso menjawab dengan tembakan.
Prajurit pun mengarahkan senjata mitraliur ke tempat persembunyian Muso. Muso roboh. Meski luka berat, dia masih hidup. Muso dibawa ke rumah sakit Ponorogo.
Kepala polisi Ponorogo menghubungi Moehammad Jasin sebagai komandan MBB Jawa Timur merangkap koordinator Mobiele Brigade (MB) Karesidenan se-Jatim. Jasin menyaksikan Muso mengembuskan napas terakhir.
Senin, 13 Mei 2013
Berapa Sih Besaran Tunjangan Veteran Pejuang Kemerdekaan? Ini Dia Daftarnya
Herdaru Purnomo - detikfinance
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013, Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 telah menaikkan tunjangan kepada bekas anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan dan para Veteran.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tunjangan tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan saat ini.
Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013 kepada bekas anggota KNIP kini diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 2.128.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.988.000,00). Apabila bekas anggota KNIP meninggal dunia, kepada janda/dudanya yang sah diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 1.585.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.481.000).
Dalam hal bekas anggota KNIP mempunyai lebih dari seorang istri yang sah, maka yang mendapat tunjangan kehormatan adalah istri pertama.
"Istri yang pertama sebagaimana dimaksud adalah istri yang paling lama dinikahinya tanpa terputus oleh perceraian," demikian bunyi Pasal 3 Ayat (3) PP tersebut yang dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Senin (6/5/2013).
Sementara pada Pasal 3 Ayat (4) disebutkan, pembayaran tunjangan dihentikan apabila janda/duda bekas anggota KNIP meninggal dunia atau kawin lagi.
Adapun pemberian tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 adalah Rp 2.128.000,00 (sebelumnya Rp 1.988.000,00); dan apabla Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan meninggal dunia maka kepada janda/dudanya diberikan tunjangan sebesar Rp 1.585.000,00 (sebelumnya Rp 1.481.000,00).
Mengenai besarnya tunjangan kepada Veteran Pejuang kemerdekaan RI sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 disebutkan: a. Golongan A sebesar Rp 1.310.000,00 (sebelumnya Rp 1.224.000,00); b. Golongan B sebesar Rp 1.276.000,00 (sebelumnya Rp 1.192.000,00); Golongan C adalah Rp 1.225.000,00 (sebelumnya Rp 1.144.000,00; d. Golongan D adalah Rp 1.194.000,00 (sebelumnya Rp 1.115.000,00); dan e. Golongan E adalah Rp 1.168.000,00 (sebelumnya Rp 1.091.000,00).
"Kepada Veteran yang menderita cacat badan dan/atau cacat ingatan diberikan tambahan tunjangan cacat sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi Purnawirawan TNI/Polri yang cacat," jelas Pasal 4 Ayat (3) PP tersebut.
Adapun Tunjangan Veteran yang diberikan kepada janda/duda Veteran Pejuang Kemerdekaan RI adalah: a. Golongan A Rp 1.189.000,00 (sebelumnya Rp 1.111.000); b. Golongan B Rp 1.134.000,00 (sebelumnya Rp 1.059.000,00); c. Golongan C Rp 1.081.000,00 (sebelumnya Rp 1.010.000,00); d. Golongan D Rp 1.033.000,00 (sebelumnya Rp 965.000,00); dan e. Golongan E Rp 987.000,000,00 (sebelumnya Rp 922.000,00).
Ketentuan mengenai perubahan besaran tunjangan untuk bekas anggota KNIP, Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan, dan Veteran Pejuang kemerdekaan RI ini berlaku mulai 1 Januari 2013. Adapun PP mengenai pemberlakuan hal itu berlaku per tanggal diundangkan, yaitu 11 April 2013.
(dru/dnl)
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013, Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 telah menaikkan tunjangan kepada bekas anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan dan para Veteran.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tunjangan tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan saat ini.
Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2013 kepada bekas anggota KNIP kini diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 2.128.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.988.000,00). Apabila bekas anggota KNIP meninggal dunia, kepada janda/dudanya yang sah diberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 1.585.000,00 setiap bulan (sebelumnya Rp 1.481.000).
Dalam hal bekas anggota KNIP mempunyai lebih dari seorang istri yang sah, maka yang mendapat tunjangan kehormatan adalah istri pertama.
"Istri yang pertama sebagaimana dimaksud adalah istri yang paling lama dinikahinya tanpa terputus oleh perceraian," demikian bunyi Pasal 3 Ayat (3) PP tersebut yang dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Senin (6/5/2013).
Sementara pada Pasal 3 Ayat (4) disebutkan, pembayaran tunjangan dihentikan apabila janda/duda bekas anggota KNIP meninggal dunia atau kawin lagi.
Adapun pemberian tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2013 adalah Rp 2.128.000,00 (sebelumnya Rp 1.988.000,00); dan apabla Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan meninggal dunia maka kepada janda/dudanya diberikan tunjangan sebesar Rp 1.585.000,00 (sebelumnya Rp 1.481.000,00).
Mengenai besarnya tunjangan kepada Veteran Pejuang kemerdekaan RI sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2013 disebutkan: a. Golongan A sebesar Rp 1.310.000,00 (sebelumnya Rp 1.224.000,00); b. Golongan B sebesar Rp 1.276.000,00 (sebelumnya Rp 1.192.000,00); Golongan C adalah Rp 1.225.000,00 (sebelumnya Rp 1.144.000,00; d. Golongan D adalah Rp 1.194.000,00 (sebelumnya Rp 1.115.000,00); dan e. Golongan E adalah Rp 1.168.000,00 (sebelumnya Rp 1.091.000,00).
"Kepada Veteran yang menderita cacat badan dan/atau cacat ingatan diberikan tambahan tunjangan cacat sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi Purnawirawan TNI/Polri yang cacat," jelas Pasal 4 Ayat (3) PP tersebut.
Adapun Tunjangan Veteran yang diberikan kepada janda/duda Veteran Pejuang Kemerdekaan RI adalah: a. Golongan A Rp 1.189.000,00 (sebelumnya Rp 1.111.000); b. Golongan B Rp 1.134.000,00 (sebelumnya Rp 1.059.000,00); c. Golongan C Rp 1.081.000,00 (sebelumnya Rp 1.010.000,00); d. Golongan D Rp 1.033.000,00 (sebelumnya Rp 965.000,00); dan e. Golongan E Rp 987.000,000,00 (sebelumnya Rp 922.000,00).
Ketentuan mengenai perubahan besaran tunjangan untuk bekas anggota KNIP, Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan, dan Veteran Pejuang kemerdekaan RI ini berlaku mulai 1 Januari 2013. Adapun PP mengenai pemberlakuan hal itu berlaku per tanggal diundangkan, yaitu 11 April 2013.
(dru/dnl)
Sabtu, 30 Maret 2013
TANTANGAN TERSUKAR BANGSA INDONESIA
Tantangan bangsa Indonesia dalam menghadapi masa
depan tidak sedikit dan banyak di antara tantangan itu merupakan masalah
yang sukar. Seperti tantangan membangun ekonominya dengan pertumbuhan
yang tinggi, tapi di pihak lain juga mengatasi kemiskinan dan
kesenjangan lebar antara orang kaya dan miskin. Atau keharusan membangun
infrastruktur untuk transportasi yang luas ke seluruh wilayah nasional
di darat, laut dan udara, maupun untuk menghasilkan tenaga listrik dalam
jumlah besar. Ini semua merupakan tantangan yang berat bagi Pemerintah
di Pusat dan Daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun di antara berbagai tantangan yang sukar dan berat ini yang tersukar dan berat adalah kewajiban membangun Manusia dan Masyarakat yang tinggi kualitasnya, karena inilah hakekatnya penentu bagi keberhasilan seluruh usaha dan pembangunan menuju pencapaian Tujuan Nasional kita.
Sebetulnya banyak yang sadar akan pentingnya
faktor Manusia dan Masyarakat. Antara lain Presiden Sukarno, presiden
kita pertama, selalu mengemukakan pentingnya Nation & Character Building. Juga dalam masa kepemimpinan Presiden Soeharto dicanangkan bahwa hakekat pembangunan nasional Indonesia adalah membangun Manusia dan Masyarakat Indonesia. Dan dalam kehidupan sehari-hari selalu orang suka mengatakan bahwa untu mencapai keberhasilan yang penting adalah the Man behind the gun atau orang-orang yang melakukan usaha itu.
Namun demikian, kehidupan bangsa kita menunjukkan
bahwa faktor Manusia dan Masyarakat paling sering menjadi halangan untuk
keberhasilan satu usaha. Itu bukti bahwa sekalipun ada kesadaran dan
pemahaman tentang pentingnya faktor Manusia , usaha yang dijalankan
untuk peningkatan mutu Manusia Indonesia masih jauh dari memadai untuk
mewujudkan perubahan.
Sebetulnya kurang masuk akal bahwa peningkatan
mutu Manusia dan Masyarakat merupakan tantangan berat bagi bangsa
Indonesia. Sebab kita melihat bahwa pada dasarnya Manusia Indonesia
banyak potensinya yang positif . Seperti adanya potensi kecerdasan yang
tinggi; hal itu seringkali kita lihat ketika pemuda Indonesia menonjol
dalm pendidikan bersama anak-anak bangsa lain. Juga Manusia Indonesia
menunjukkan potensi untuk bersikap fleksibel, mudah menyesuaikan diri
dengan berbagai keadaan dan perubahan. Namun bangsa Indonesia kurang
mampu menjadikan berbagai potensi itu berkembang menjadi kekuatan nyata
yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan masa kini dan masa depan
secara efektif.
Kekurangan ini mungkin sekali terbentuk karena
pengaruh Alam Lingkungan Indonesia yang mudah dan murah. Tanah yang
subur dan mudah ditanami apa saja. Cuaca yang tidak pernah terlalu panas
atau terlalu dingin. Berbeda dari Alam Lingkungan yang keras, seperti
kehidupan di bagian utara Planit Bumi dengan keharusan bagi manusia
mengatasi berbagai persoalan yang ditimbulkan musim dingin yang tajam.
Alam Lingkungan yang murah dan mudah cenderung
membuat Manusia Indonesia manja mentalnya. Ia menjadi orang yang dalam
segala hal hidup santai, tidak merasa perlu berdisiplin, kurang mampu
untuk bersifat konsisten, tidak terdorong untuk melakukan hal-hal
terbaik dan cenderung bersikap semau gue. Tidak keberatan hasil pekerjaannya asal jadi dan bukan produk unggul.. Sifat gumampang itu
membuatnya kurang serieus menghadapi persoalan. Karena manja mental itu
berbagai sifat positif dalam diri Manusia tiidak dapat berkembang
menjadi kekuatan. Dan karena itu tidak ada niat untuk mencapai yang
terbaik.
Hal ini amat sering kita jumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Seperti pandai dan hebat berteori dan berwacana, tetapi
hanya bicara belaka tanpa disertai perbuatan menjadikan teori itu
kenyataan. Ini kita sering kali jumpai pada para pemimpin tertinggi
hingga rakyat di bawah, sejak permulaan kemerdekaan hingga kini. Yang
paling menonjol adalah kehebatan Bung Karno menghasilkan Pancasila yang
beliau gali dari kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi baik Bung Karno
maupun para pemimpin lain tidak berhasil menjadikan Pancasila yang
diakui sebagai Dasar Negara RI, satu realitas nyata dalam kehidupan
bangsa. Kita juga acapkali mengalami produk buatan Indonesia bagus
mulanya tetapi tidak tahan lama. Seperti jembatan yang runtuh tidak lama
setelah selesai dibangun, padahal dibangun dengan dana memadai serta
pimpinan proyek berpendidikan teknik yang bagus. Kemanjaan mental juga
berakibat kurang adanya daya saing menghadapi pihak lain, bukan karena
kurang pintar atau kurang dana, melainkan karena kurang ada semangat
juang . Kemanjaan mental ini berakibat luas dan jauh sehingga bangsa
Indonesia menjadi kurang mampu menjadikan segala karunia Allah berupa
Sumberdaya Alam yang kaya dan bermutu, memberikan manfaat maksimal bagi
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Malahan yang jauh lebih banyak
mendapat manfaat dari kekayaan Sumberdaya Alam Indonesia adalah orang
asing.
Maka menjadi tantangan bangsa bagaimana membuat
Manusia Indonesia bersikap arif dan efektif menghadapi Alam Lingkungan
yang mudah dan murah. Bukan menjadi manja dan lemah mental, melainkan
justru terdorong untuk me-respond kemurahan Tuhan itu dengan menjadikan segala kemurahanNya memberikan manfaat maksimal bagi seluruh bangsa kita sendiri .
Namun tidk semua Manusia Indonesia jadi manja
mental dan terdapat perkecualian dalam gambaran Manusia dan Masyarakat
itu. Cukup banyak orang Indonesia, pria maupun wanita, yang menunjukkan
prestasi tinggi dalam hidupnya. Kita ingat almarhum Pak Dasaad yang
sebagai anak muda hanya penjual kacang di pinggir jalan, tetapi kemudian
tumbuh menjadi pengusaha besar yang menimbulkan kebanggaan. Kita juga
teringat alm Ibu S.K.Trimurti Srikandi Perjuangan Kemerdekaan yang gigih
hidupnya dari mulai muda sampai wafat pada usia 96 tahun. Kita juga
teringat Pak Maladi yang tidak hanya penjaga gawang yang hebat di masa
muda tetapi kemudian juga secara konsisten memimpin PSSI sehingga
kesebelasan Indonesia di masanya tergolong terkuat di Asia. Pasti kita
tidak lupa Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sekalipun sakit berat
tetap memimpin perjuangan TNI bersama Rakyat. Serta semua Pejuang
Kemerdekaan yang gigih dan konsisten melawan penjajah dan akhirnya dapat
memaksanya mengakui kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Masih
cukup banyak contoh hasil juang Manusia Indonesia yang menonjol. Akan
tetapi rupanya perkecualian yang ada itu masih kurang memadai untuk
mengkompensasi kelemahan bangsa berupa kemanjaan mental. Orang-orang
Indonesia yang pejuang dan menonjol tidak dapat menjadikan bangsa
Indonesia secara umum cukup bermutu dan hidup dengan daya saing menonjol
dalam Alam Umat Manusia masa kini dan masa datang.
Kunci untuk menghadapi tantangan ini adalah
Pendidikan dan Kepemimpinan yang tepat sehingga dapat meniadakan
pengaruh negatif dari Alam Lingkungan yang murah dan mudah. Sehingga
tidak ada sifat manja mental bangsa. Baik pendidikan di lingkungan
Keluarga, maupun di Sekolah dan Masyarakat dapat berperan untuk menjadi
kunci pemecahan persoalan.
Juga Kepemimpinan mempunyai peran penting sebagai
kunci perubahan. Untuk itu diperlukan Kepemimpinan yang bermutu di
setiap eselon dan sektor kehidupan bangsa, mulai Presiden hingga Lurah,
pimpinan perusahaan hingga mandor produksi.
Proses Pendidikan makan waktu lama, tetapi
merupakan kegiatan utama untuk perbaikan mutu Manusia. Sebab itu harus
dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan keuletan. Untuk itu
diperlukan Kepemimpinan Nasional dan Daerah yang terdiri dari
orang-orang Indonesia yang bukan lemah dan manja mental. Mereka yang
menetapkan orang-orang sebagai penyelenggara Pendidikan yang tepat,
yaitu tidak saja punya kompetensi tinggi sebagai Pendidik tetapi juga
bermental kuat untuk memimpin proses pendidikan dengan sukses. Sebab
proses Pendidikan itu tidak mungkin memberikan keberhasilan dalam waktu
singkat dan akan banyak dihadapi persoalan, tantangan dan ganngguan.
Proses Pendidikan yang dilakukan di Pendidikan
Sekolah itu juga harus dapat mempengaruhi Pendidikan di lingkungan
Keluarga. Para Orang Tua perlu memperoleh dampak atau pengaruh untuk
mendidik putera-puterinya menjadi orang bermutu, yaitu orang yang
berkarakter teguh-kuat, senantiasa mengusahakan yang terbaik dan menjadi
warga masyarakat serta warga negara yang produktif.
Seluruh proses perubahan yang ditimbulkan oleh
Pendidikan dan Kepemimpinan yang tepat itu harus dapat menghasilkan
kebiasaan-kebiasaan hidup baru dalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan
yang mendorong orang untuk hidup, bersikap dan berpikir menghasilkan
yang terbaik dalam segenap pekerjaan dan kegiatannya. Dengan begitu
lambat tapi pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa dengan masyarakat
bermutu tinggi. Hasil kegiatan bangsa dan produk bangsa Indonesia
menjadi benar-benar bermutu dan memperoleh pengakuan dan branding internasional sebagai yang terbaik.
Proses perubahan yang makan waktu lama memerlukan kepemimpinan yang konsisten, ulet, sabar dan taat pada tujuan perjuangan.
Semoga bangsa Indonesia sukses dalam mengatasi tantangan berat dan sukar ini.
Langganan:
Postingan (Atom)



